Sebagian Besar Meyakini Hari Datangnya Bala, Lalu Apa Hukum Salat Sunnah di Akhir Bulan Safar Itu? Simak Beritanya!
Font Terkecil
Font Terbesar
Rebo Wekasan Sebentar Lagi Tiba pada 4 September 2024, Sebagian Besar Meyakini Hari Datangnya Bala, Lalu Apa Hukum Salat Sunnah di Akhir Bulan Safar Itu?
Gresik, BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID -Hari Rabu terakhir di bulan Safar dikenal dengan istilah Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan. Pada tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 4 Setpember. Beberapa daerah, terutama di wilayah Jawa, memiliki tradisi menghadapi Rebo Wekasan tersebut. Termasuk di Kabupaten Gresik, tepatnya di Desa Suci, Kecamatan Manyar.
Dikutip dari NU Online (2/9/2024), sebagian orang meyakini bahwa Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala (bencana/musibah). Namun, soal keyakinan itu, ulama berbeda pendapat. Ada yang memang meyakini, dan sebagian ulama lainnya tidak. Di antara ulama yang meyakini turunnya bala ini ialah Syaikh Abdul Hamid Quds.
Syaikh Abdul Hamid Quds adalah seorang ulama yang lahir di Makkah, pada 1277 H/1861 M. Ia disebut sebagai selah seorang di antara ulama yang layak mendapat julukan al-musnid, ulama yang mempunyai banyak jalur sanad periwayatan keilmuan dalam bidang hadis atau lainnya.
Di dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, Syaikh Abdul Hamid Quds mengatakan bahwa di hari Rabu Wekasan itu, ada 320 ribu bala yang turun untuk setahun.
Karena itu, sebagai upaya untuk mencegah agar tidak terkena bala itu, sebagian ulama menganjurkan untuk melaksanakan salat sunnah empat rakaat. Namun, dengan syarat bukan niat untuk salat Rebu Wekasan, melainkan diniatkan sebagai salat sunnah mutlak.
Adapun tata cara melaksanakan salat sunnah saat Rebu Wekasan meliputi lima hal sebagaimana berikut:
1. Niat salat sunnah mutlak dua rakaat
Ø£ُصَÙ„ِّÙŠْ سُÙ†َّØ©ً رَÙƒْعَتَÙŠْÙ†ِ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ تَعَالَÙ‰
Artinya: “Saya niat salat sunnah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Setelah membaca Alfatihah, baca Surat AlKautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, AlFalaq dan AnNas sekali setiap rakaat.
3. Lakukan salat sebagaimana biasanya dua rakaat.
4. Setelah salam, membaca doa.
5. Salat sunnah mutlak dua rakaat ini dilakukan dua kali.
Sebagai informasi, pelaksanaan salat ini sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT agar dijaga dari segala bahaya selama setahun.
Pesan Kami Redaksi BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID
Kepada Para Pembaca Yang Budiman.
Nasihat dan Ulasan:
Artikel ini membahas tentang fenomena Rebo Wekasan, sebuah tradisi yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai hari datangnya bala atau malapetaka, serta pertanyaan tentang hukum salat sunnah di akhir bulan Safar. Berikut adalah beberapa poin yang bisa dijadikan nasihat untuk melengkapi artikel ini:
1.Keimanan dan Keyakinan:
Penting untuk diingat bahwa kepercayaan terhadap hari-hari tertentu membawa bala tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Umat Islam diimbau untuk memperkuat keimanan mereka kepada Allah dan meyakini bahwa segala sesuatu, baik itu kemalangan atau keberuntungan, sepenuhnya berada di bawah kuasa-Nya. Menghindari takhayul dan mengedepankan tauhid adalah langkah yang bijak.
2. Amalan yang Diajarkan:
Jika seseorang merasa khawatir pada hari Rebo Wekasan, lebih baik meningkatkan amalan-amalan yang dianjurkan dalam agama, seperti memperbanyak doa, dzikir, serta memperbanyak salat sunnah. Mengenai hukum salat sunnah khusus di akhir bulan Safar, para ulama berbeda pendapat, dan sebaiknya kita mengikuti pandangan yang memiliki dasar syar’i yang jelas.
3.Berpikir Positif dan Tawakkal:
Alih-alih takut akan bala yang mungkin datang, alangkah baiknya jika kita mengisi hari tersebut dengan sikap tawakkal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berikhtiar. Ini akan membawa ketenangan hati dan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, semuanya adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah.
4. Peran Ilmu dan Pendidikan:
Masyarakat harus terus didorong untuk menimba ilmu, terutama ilmu agama, agar tidak terjerumus dalam keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan agama yang benar akan membantu umat untuk membedakan antara tradisi yang dibolehkan dan yang sebaiknya dihindari.
5. Kebersamaan dan Guyub Rukun:
Akhir bulan Safar juga dapat menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan gotong royong dalam masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, segala bentuk kekhawatiran dapat diatasi bersama-sama, dan masyarakat akan semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
artikel ini tidak hanya menyajikan informasi mengenai Rebo Wekasan, tetapi juga memberikan pandangan yang lebih luas dan mengajak pembaca untuk memanfaatkan momen ini dengan cara yang lebih positif dan sesuai ajaran agama.

