BREAKING NEWS

Makrifat Tanah Jawa: Jejak Syeh Subakir, Legenda Ki Noyo Genggong, dan Jembatan Harmonis Kejawen–Islam.

Gambar Ilustrasi

Kajian ke-13 ,BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

Pendahuluan

Kajian ke-13 adalah titik penting dalam perjalanan memahami hubungan batin antara Kejawen Nusantara dan ajaran Islam.

Di tahap ini, kita menyoroti makrifat—tingkatan spiritual tertinggi dalam tradisi Islam—dan bagaimana konsep ini bertemu dengan laku batin masyarakat Jawa.

Untuk memahami itu, kita perlu menelusuri dua tokoh yang kerap disebut dalam memori spiritual Jawa:

Syeh Subakir, ulama besar pembawa energi Islam awal di Tanah Jawa.

Ki Noyo Genggong, tokoh legenda lokal yang bertugas menjaga keseimbangan wilayah.

Dua tokoh ini tidak berdiri terpisah. Justru ketika dipahami secara jernih, keduanya saling melengkapi dalam menggambarkan jalan makrifat ala Jawa dan Islam.

1. Asal-Usul Ilmu Makrifat: Dari Tasawuf Islam hingga Rasa Sejati Jawa

Makrifat dalam Islam

Dalam tasawuf, makrifat adalah tingkatan spiritual tertinggi, setelah:

1. Syariat

2. Tarekat

3. Hakikat

4. Makrifat

Makrifat berarti mengenal Allah dengan kesadaran batin, bukan sekadar melalui pikiran atau hafalan.

Ciri-cirinya:

hati jernih

diri rendah hati

tidak lagi mengejar dunia

sadar bahwa hidup adalah jalan pulang kepada Allah

Makrifat ala Jawa (Rasa Sejati)

Dalam Kejawen, makrifat diterjemahkan sebagai ngelmu sangkan paraning dumadi—ilmu tentang asal dan tujuan manusia.

Ciri-cirinya:

memahami makna rasa

hidup dalam keselarasan alam

menundukkan ego

Eling lan waspada” (selalu sadar dan hati-hati)

Kesamaan keduanya

Walau berbeda istilah, keduanya menunjuk pada inti yang sama:

Mengenal Tuhan melalui pembersihan jiwa dan pengendalian diri.

Ini alasan mengapa makrifat menjadi jembatan paling kuat antara Kejawen dan Islam.

2. Asal-Usul Syeh Subakir: Tokoh Historis & Penjaga Energi Jawa

Siapa Syeh Subakir?

Syeh Subakir (Syekh Subakir/Syekh Basyar) diyakini berasal dari Persia. Ia datang ke Nusantara pada masa awal dakwah Islam, bahkan mendahului sebagian Wali Songo.

Dalam tradisi Jawa, beliau dikenal karena:

a. Menata energi spiritual Nusantara

Saat tiba di Jawa, beliau melihat adanya “energi kacau”—yang diwujudkan dalam cerita rakyat sebagai makhluk halus, jin besar, penunggu gunung, dan penjaga wilayah.

Ini bukan sekadar cerita mitos, melainkan simbol dari:

kekacauan sosial

budaya animisme lama

ketakutan masyarakat

energi nonharmonis

b. Menanam Batu Bawono

Batu Bawono adalah simbol “penetapan pusat energi” agar tanah Jawa menjadi tenang dan siap menerima peradaban baru.

c. Mengharmoniskan Kejawen & Tauhid

Beliau tidak memaksa masyarakat meninggalkan tradisi.

Beliau menanamkan Islam melalui jalan tasawuf, sehingga masyarakat menerima Islam tanpa kehilangan identitas Jawa.

Makrifat versi Syeh Subakir

Beliau membawa gagasan bahwa:

Japan  menuju Tuhan ditempuh melalui hati yang bersih, bukan sekadar ritual.

Ini sebabnya namanya dihormati sebagai penjaga batin Jawa.

3. Asal-Usul Ki Noyo Genggong: Tokoh Legenda Penjaga Keseimbangan

Siapa Ki Noyo Genggong?

Ki Noyo Genggong adalah sosok legenda Jawa Timur yang dikenal sebagai penjaga wilayah dan pelaku laku batin tingkat tinggi.

Walaupun tokohnya bersifat folklor, tetapi mengandung nilai filosofis mendalam, yaitu:

a. Wakil dari kearifan lokal Jawa

Ia digambarkan sebagai sosok:

sakti tetapi rendah hati

mampu mengendalikan “alam halus”

menjaga harmoni masyarakat

b. Melakukan Laku Prihatin

Ia menjalankan:

tapa

brata

pengendalian hawa nafsu

hidup sederhana

c. Kesaktiannya bukan tujuan

Kekuatan Ki Noyo Genggong selalu dihubungkan dengan kejernihan batin, bukan mantera atau kedigdayaan.

Makna spiritual Ki Noyo Genggong

Ia melambangkan bahwa manusia yang menguasai dirinya sendiri lebih kuat daripada mereka yang menguasai dunia luar.

4. Titik Kesesuaian: Makrifat Islam, Kejawen, Syeh Subakir, dan Ki Noyo Genggong

Berikut persamaan utama yang membuat empat unsur ini menyatu secara harmonis:

A. Pembersihan Diri (Tazkiyatun Nafs)

Islam: menghilangkan sifat buruk agar hati jernih.

Kejawen: ngresiki batin, ngendhaleni angkara murka.

Syeh Subakir: membersihkan Jawa agar masyarakat siap menerima kebenaran.

Ki Noyo Genggong: menjalankan tirakat yang membuat dirinya bersih jiwa.

Intinya:

Kebenaran hanya turun pada hati yang bersih.

B. Pengendalian Nafsu

Islam: nafsu amarah harus ditaklukkan.

Kejawen: hawa nafsu sumber kerusakan diri.

Syeh Subakir: mengajarkan laku batin, bukan sekadar syariat lahir.

Ki Noyo Genggong: tirakat sebagai cara menjinakkan ego.

Intinya:

Orang yang mengendalikan dirinya adalah manusia sejati.

C. Keselarasan Alam

Islam: manusia adalah khalifah penjaga bumi.

Kejawen: menjaga harmoni alam adalah kewajiban.

Syeh Subakir: menata energi bumi.

Ki Noyo Genggong: menjaga keseimbangan wilayah.

Intinya:

> Spiritualitas adalah menjaga dunia, bukan lari dari dunia.

D. Jalan Pulang kepada Tuhan

Islam: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kejawen: sangkan paraning dumadi.

Syeh Subakir: mengajarkan jalan pulang melalui tauhid.

Ki Noyo Genggong: laku tapa menuju kesadaran sejati.

Intinya:

Hidup adalah perjalanan pulang kepada Sang Pencipta.

5. Kesimpulan Besar Kajian ke-13

Makrifat dalam Islam dan Kejawen ternyata bukan dua ilmu yang bertentangan.

Sebaliknya, keduanya adalah dua jalan yang bermuara pada satu tujuan:

menjadi manusia yang sadar, rendah hati, bersih batinnya, dan dekat dengan Tuhan.

Syeh Subakir memberi pondasi tauhid,

Ki Noyo Genggong memberi contoh laku batin.

Jika keduanya dipahami bersama, kita punya gambaran utuh tentang:

spiritualitas Jawa

kedalaman Islam

keseimbangan alam

kesucian hati

dan perjalanan pulang menuju Tuhan

Penutup (Bersambung ke Kajian ke-14)

Kajian ke-13 ini menjadi titik puncak pemahaman bahwa tradisi Jawa dan Islam berjalan seiring, saling menguatkan dalam membentuk makrifat manusia.

Bersambung  kajian ke 14


Posting Komentar