BREAKING NEWS

Membaca Arah Peradaban Nusantara: Spiritualitas Jawa–Islam sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa”

 

Gambar Ilustrasi

Kajian ke-10

BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-Membaca Arah Peradaban Nusantara: Spiritualitas Jawa–Islam sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa”

Pendahuluan

Setelah membahas keluarga dan kepemimpinan, kita kini memasuki dimensi yang lebih luas: visi masa depan Nusantara.

Pertanyaan yang kita bahas pada kajian ke-10 bukan hanya siapa kita, melainkan ke mana kita akan menuju sebagai bangsa — terutama ketika akar budaya Jawa dan prinsip ketuhanan Islam bertemu membentuk identitas kolektif.

Kajian ini mengupas bagaimana spiritualitas yang seimbang dapat menjadi pondasi untuk membangun peradaban yang maju, bermartabat, dan berketuhanan.


1. Dari Spiritualitas Pribadi menuju Spiritualitas Peradaban

Kearifan Jawa dan ajaran Islam sama-sama memulai dari batin manusia, tetapi tidak berhenti di sana.

Keduanya bergerak ke:

keluarga,

masyarakat,

kepemimpinan,

lalu peradaban.

Dalam tradisi Kejawen, peradaban ideal disebut tata tentrem, karta raharja — damai, adil, dan sejahtera.

 Dalam Islam, ideal peradaban dikenal sebagai rahmatan lil ‘alamin — membawa rahmat bagi seluruh alam.

Keduanya sama-sama mengarah pada kebaikan bersama, bukan dominasi atau konflik identitas.


2. Identitas Nusantara: Teguh Berakar, Terbuka pada Kemajuan

Krisis identitas sering terjadi ketika modernitas berbenturan dengan tradisi.

spiritualitas Jawa–Islam menawarkan keseimbangan:

tidak inferior terhadap budaya asing,

tidak fobia terhadap kemajuan,

tetapi selektif, bijak, dan kritis.

Prinsipnya:

“Ojo ilang jawahé, ojo ninggal syari’até.”

 (Jangan hilang kejawaanmu, jangan tinggalkan syariatmu.)

Inilah rumusan identitas Nusantara masa depan:

 berakar kuat — namun bersayap luas.


3. Ilmu, Teknologi, dan Kebijaksanaan sebagai Satu Tarikan Nafas

Dunia modern mengagungkan kecerdasan dan teknologi.

Namun kecerdasan tanpa etika hanya melahirkan kehancuran.

Kearifan Jawa mengajarkan ngelmu iku kalakone kanthi laku — ilmu harus disertai keluhuran moral.

Islam menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya, bukan alat kesombongan.

Peradaban masa depan membutuhkan:

ilmu yang canggih,

teknologi yang memajukan,

dan kebijaksanaan batin yang mengarahkan keduanya.

Dengan begitu, kemajuan tidak menghancurkan kemanusiaan.


4. Welas Asih sebagai Sumbu Peradaban

Arah peradaban tidak ditentukan oleh struktur bangunan, ekonomi, atau teknologi saja, tetapi oleh nilai moral yang menopangnya.

Jawa menempatkan welas asih (kasih sayang) sebagai inti relasi sosial.

Islam menempatkan rahmah (kerahmatan) sebagai napas kehidupan.

Dua nilai ini menjadi pondasi peradaban yang tidak hanya kuat secara material, tetapi juga:

ramah,

adil,

manusiawi,

tenteram,

dan saling menyejukkan.

Inilah peradaban yang bukan sekadar maju, tetapi bermartabat.


5. Peran Manusia Nusantara: Subjek Peradaban, bukan Penonton

Arus global sering menjadikan bangsa-bangsa kecil sekadar konsumen budaya, teknologi, dan pemikiran.

Namun nilai spiritual Jawa–Islam membangkitkan kesadaran bahwa:

“Kita bukan penonton sejarah — kita pembangun sejarah.”

Bangsa Nusantara memiliki:

warisan spiritual yang kaya,

budaya gotong royong yang kuat,

pandangan ketuhanan yang teguh,

dan sejarah kemanusiaan yang luas.

Modal ini bukan untuk nostalgia, tetapi untuk melangkah ke depan sebagai pelaku peradaban dunia.


Penutup (Bersambung)

Kajian ke-10 memperlihatkan bahwa harmoni Kejawen dan Islam bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi arah peradaban masa depan yang menyeimbangkan:

kemajuan ilmu,

kemuliaan akhlak,

dan keluhuran spiritual.

Perjalanan ini belum berakhir.

Selanjutnya, Kajian ke-11 akan membahas dimensi paling reflektif:

bagaimana manusia memaknai takdir, kebebasan, dan rasa pasrah dalam kerangka Jawa–Islam untuk menjalani kehidupan yang penuh ketenangan.

Bersambung ke Kajian ke-11 —



Posting Komentar