BREAKING NEWS

Menerima Tanpa Menyerah: Makna Takdir, Ikhtiar, dan Pasrah dalam Spiritualitas Jawa–Islam”

 

Gambar Ilustrasi

Kajian ke-11

BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-Menerima Tanpa Menyerah: Makna Takdir, Ikhtiar, dan Pasrah dalam Spiritualitas Jawa–Islam”

Pendahuluan

Setelah menelaah arah peradaban Nusantara, kini kita turun kembali ke ruang paling personal dalam spiritualitas: bagaimana manusia menghadapi hidup itu sendiri—tantangan, rezeki, cobaan, kegagalan, dan keberhasilan.

Kejawen Nusantara dan Islam sama-sama memiliki pandangan yang kaya mengenai takdir, usaha manusia (ikhtiar), dan kepasrahan kepada Tuhan.

Kajian ke-11 ini mengulas keseimbangan halus antara menerima jalan hidup dan tetap berjuang dengan penuh kesadaran.


1. Takdir sebagai Rahasia, Bukan Pembatas

Dalam falsafah Jawa, takdir dipahami sebagai panyaruwe Gusti” — rancangan Tuhan yang tidak sepenuhnya bisa dibaca manusia.

Dalam Islam, takdir (qadar) adalah ketetapan Allah yang bersifat rahasia.

Keduanya mengajarkan bahwa:

tidak semua hal dapat dikendalikan,

namun manusia tetap diberi ruang untuk berusaha.

Jadi spiritualitas bukan fatalisme, melainkan keseimbangan antara usaha dan penerimaan.


2. Ikhtiar: Laku Manusia untuk Mengubah Keadaan

Tradisi Jawa menyebut ikhtiar sebagai “laku” — tindakan nyata yang dijalankan dengan kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan.

Islam menggunakan istilah “amal shaleh” dan ikhtiar”—upaya terbaik dalam kerangka yang halal dan benar.

Pesan keduanya sama:

Tuhan tidak akan mengubah keadaan sebuah kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka.”

Artinya, spiritualitas sejati bukan menunggu keajaiban, tetapi berikhtiar hingga batas kemampuan sebelum berserah.


3. Pasrah dan Narima: Bukan Kalah, Tapi Legawa

Salah satu kekeliruan umum adalah menganggap pasrah sebagai menyerah.

Padahal:

Jawa mengajarkan narima ing pandum: menerima bagian hidup tanpa menggerutu, setelah berusaha.

Islam mengajarkan tawakkal: berserah diri setelah ikhtiar maksimal.

Pasrah bukan padam, tetapi tenang, karena hati tahu ia sudah melakukan yang terbaik dan menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Di sinilah letak ketentraman batin.


4. Pertemuan Harmonis: Laku Budi dan Cahaya Tauhid

Keseimbangan antara ikhtiar dan pasrah hanya muncul ketika:

hati tidak dikuasai ego,

pikiran tidak dikuasai ketakutan,

dan usaha tidak dikuasai ambisi buta.

Jalan tengah spiritual Jawa–Islam mengajarkan:

bekerja tanpa serakah,

berharap tanpa menuntut,

dan menerima tanpa menyimpan luka.

Inilah laku kesadaran — laku batin yang menjadikan hidup tidak terombang-ambing keadaan.


5. Kedewasaan Spiritual: Bebas Tanpa Lepas

Manusia yang matang secara spiritual bukan yang bebas dari masalah,

tetapi yang tetap jernih meski diterpa masalah.

Kejawen menggambarkannya sebagai:

sumeleh (mantap dan tenang dalam pasrah),

mantab ing ati (kokoh dalam hati).

Islam menyebutnya sebagai:

ridha — menerima ketetapan Allah tanpa putus asa,

sakinah — ketenangan batin yang dianugerahkan Tuhan.

Inilah bentuk kebebasan yang paling dalam:

bebas dari kecemasan, bukan bebas dari tanggung jawab.


Penutup (Bersambung)

Kajian ke-11 menyadarkan kita bahwa salah satu kebutuhan terbesar manusia adalah menemukan keseimbangan antara perjuangan dan kepasrahan.

Kearifan Jawa dan Islam menunjukkan jalan untuk menjalani hidup dengan tenang, teguh, dan penuh kesadaran.

Selanjutnya, kita akan melangkah ke Kajian ke-12, tahap puncak penutup seri ini — tentang makna kehadiran manusia di dunia dan hakikat kembali kepada Tuhan dalam perspektif Jawa–Islam.

Bersambung ke Kajian ke-12 —


Posting Komentar