Sangkan Paraning Dumadi: Menyelami Asal-Usul dan Tujuan Hidup dalam Perspektif Jawa–Islam.
Kajian ke-12
BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID- Sangkan Paraning Dumadi: Menyelami Asal-Usul dan Tujuan Hidup dalam Perspektif Jawa–Islam.
Pendahuluan
Di tahap akhir kajian ini, kita masuk pada inti terdalam dari spiritualitas manusia: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kemana kita akan kembali.
Konsep ini dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi, sedangkan dalam Islam disebut sebagai Tauhid, Amanah Kehidupan, dan Kepulangan kepada Allah.
Kajian ke-12 ini merupakan jembatan antara dua kebijaksanaan besar tersebut.
1. Sangkan: Asal-Usul Manusia dalam Cahaya Tuhan
Dalam falsafah Jawa, sangkan berarti “asal mula”.
Manusia diyakini berasal dari Sumber Cahaya, yaitu Tuhan Yang Maha Suci.
Dalam Islam, asal usul manusia juga jelas:
“Dari Allah kita datang.”
Keduanya sepakat bahwa:
hidup bukan kebetulan,
manusia bukan sekadar makhluk materi,
ada unsur ilahi dalam diri manusia: roh.
Asal-usul ini menegaskan bahwa manusia memiliki koneksi bawaan dengan yang Maha Pencipta.
2. Paraning: Tujuan Hidup sebagai Laku Kesadaran
Paraning berarti “tempat kembali”.
Tetapi sebelum kembali, manusia diberi tugas menjalani laku kehidupan.
Dalam Jawa:
tugas manusia adalah menjaga harmoni diri, sesama, dan alam,
memurnikan budi pekerti,
mengendalikan hawa nafsu (angkara).
Dalam Islam:
manusia adalah khalifah di bumi,
pembawa amanah,
penjaga keseimbangan.
Tujuan hidup tidak semata-mata duniawi, tetapi menjadi manusia yang sadar dan beradab.
3. Dumadi: Proses Menjadi Manusia Seutuhnya
Dumadi berarti “yang terjadi” atau “yang diwujudkan”.
Hidup ini adalah proses menjadi:
menjadi lebih bijak,
menjadi lebih bersih hatinya,
menjadi lebih dekat kepada Tuhan.
Kejawen menyebut proses ini sebagai memayu hayuning bawana: memperindah dunia melalui tindakan baik.
Islam menyebutnya sebagai amal, ibadah, dan akhlak mulia.
Keduanya sejalan:
jalan spiritual bukan pelarian dari dunia, tetapi penyempurnaan diri di dalam dunia.
4. Perjalanan Pulang: Manunggaling Rasa dan Ketentuan Ilahi
Pada akhirnya, semua hidup akan kembali kepada Tuhan.
Falsafah Jawa menggambarkannya sebagai:
pulang menyang asal
manunggal karo Pangeran (kembali menyatu secara rasa, bukan raga)
Sementara Islam menyatakannya:
“Kepada Allah-lah kamu akan dikembalikan.”
Keduanya mengajarkan:
kematian bukan akhir,
melainkan transisi,
kembali ke sumber cahaya yang sama tempat manusia berasal.
Kesadaran akan kepulangan ini menciptakan kerendahan hati, kesabaran, dan kesiapan batin dalam menjalani hidup.
5. Harmoni Dua Tradisi: Satu Arah, Dua Bahasa
Setelah membandingkan 12 kajian sebelumnya, terlihat jelas bahwa Kejawen dan Islam tidak saling meniadakan.
Mereka saling menguatkan dalam beberapa hal:
Tuhan Yang Esa
manusia sebagai makhluk yang diberi amanah
hidup sebagai praktik kesadaran
kematian sebagai kembalinya jiwa
pentingnya budi pekerti dan keteguhan batin
Jika dipahami dengan jernih, dua tradisi ini bukan jalan yang bertentangan, tetapi dua cermin yang memperlihatkan satu kebenaran yang sama.
Penutup Akhir (Bersambung ke Seri Berikutnya)
Kajian ke-12 menuntun kita pada pemahaman paling mendasar bahwa hidup adalah perjalanan pulang.
Kejawen dan Islam sama-sama mengajarkan bahwa manusia menjalani hidup bukan untuk sekadar ada, tetapi untuk menjadi, dan pada akhirnya kembali kepada Tuhan dengan hati yang jernih.
Bersambung kajian berikutnya.
