Harmoni Syariat dan Adat: Saat Hukum Ilahi Bertemu Kearifan Jawa
KAJIAN KE-17-BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-
Harmoni Syariat dan Adat: Saat Hukum Ilahi Bertemu Kearifan Jawa
A. Syariat dan Adat: Dua Jalan yang Mengarah Pada Satu Cahaya
Dalam Islam, syariat menjadi jalan hidup—mengatur ibadah, muamalah, dan akhlak manusia.
Dalam tradisi Kejawen, adat adalah pakem laku mengatur sopan santun, tata tutur, dan perilaku sosial.
Meski berbeda istilah, keduanya bertujuan sama:
Membentuk pribadi yang tertib, beradab, dan dekat kepada Tuhan.
Syariat menjaga hubungan manusia dengan Allah.
Adat menjaga hubungan manusia dengan sesama dan alam.
Ketika keduanya berjalan berdampingan, terbentuklah harmoni kehidupan yang indah.
B. Dari Masjid ke Padepokan: Ruang Spiritual yang Saling Melengkapi
Di zaman Walisongo, fungsi masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pendidikan.
Sementara padepokan menjadi ruang mendidik karakter dan rasa.
Di banyak desa Jawa, dua ruang ini tidak pernah bertentangan. Justru:
Masjid menguatkan iman dan syariat
Padepokan mengasah tepa slira, unggah-ungguh, dan ketajaman batin
Keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang:
ilmu lahir dan ilmu batin berjalan seimbang.
C. Hukum dan Kebijaksanaan: Dari Hitam-Putih ke Kecerdasan Nurani
Syariat Islam memberikan batasan yang jelas—apa yang halal dan haram, apa yang benar dan salah.
Namun para ulama dan leluhur Jawa memahami bahwa kehidupan manusia tidak selalu hitam-putih.
Karena itu, muncullah prinsip kebijaksanaan:
Syariat menuntun jalan, kebijaksanaan menuntun cara.”
Contohnya:
Syariat memerintahkan sedekah.
Adat mengajarkan caranya: ngruwat, tanggap warsa, atau kenduren, yang semuanya memuat nilai berbagi.
Syariat menuntut adab.
Jawa mengajarkan detailnya: “andhap asor, ojo dumeh”.
Bukan saling mengganti, tetapi saling menguatkan.
D. Para Tokoh Penjembatan: Walisongo dan Leluhur Jawa
Ada tokoh-tokoh besar yang menjembatani dua ajaran ini:
Sunan Giri – menyusun tata hukum Islam yang ramah adat.
Sunan Kudus – menghormati budaya Jawa agar dakwah diterima tanpa penolakan.
Ki Ageng Suryomentaram – menjaga nilai rasa dalam kehidupan.
Ki Ageng Pemanahan – memadukan kekuatan politik dan spiritual dalam laku kepemimpinan.
Mereka tidak membenturkan syariat dan adat, tetapi menanamkannya seperti dua akar yang memperkuat satu pohon kehidupan.
E. Spiritulitas yang Lembut, Akhlak yang Tegas
Penggabungan syariat dan adat melahirkan karakter khas umat Jawa:
Sopan dalam tutur
Lembut dalam perilaku
Teguh dalam tauhid
Bijak dalam menghadapi masalah
Inilah yang menjadikan Islam di tanah Jawa begitu damai dan mudah diterima.
Islam menjadi bagian dari budaya, dan budaya menjadi cermin dari iman.
F. Pelajaran untuk Generasi Modern
Di era digital, banyak orang kehilangan keseimbangan:
Ada yang kuat syariat tapi lemah adab.
Ada yang kuat budaya tapi kurang tauhid.
Kajian ini mengajak kita kembali pada harmoni:
Syariat memberi arah — adat memberi cara — makrifat memberi cahaya.
Jika ketiganya menyatu, lahirlah manusia yang lengkap:
berilmu, beradab, dan bertauhid.
Bersambung ke: Kajian ke-18
