Jalan Luhur Nusantara: Sinkronisasi Dakwah Islam dan Laku Kearifan Leluhur
KAJIAN KE-15 BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-
Jalan Luhur Nusantara: Sinkronisasi Dakwah Islam dan Laku Kearifan Leluhur
A. Merayakan Warisan Spiritual Nusantara
Indonesia adalah tanah tempat berbagai budaya, agama, dan ajaran berjumpa serta saling memperkaya. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Nusantara telah mengenal ketuhanan, etika luhur, tirakat, dan laku batin. Karena itu ketika Islam hadir, ia tidak merusak budaya setempat, tetapi mengolah dan menyelaraskannya dengan ajaran tauhid.
Islam memberikan dasar akidah yang kuat, sementara kebijaksanaan Kejawen memberikan kedalaman rasa. Keduanya berjalan berdampingan sebagai harmoni yang saling menguatkan.
B. Figur Leluhur sebagai Jembatan Peradaban
Sejarah mencatat munculnya tokoh-tokoh besar yang menjadi penghubung antara dakwah Islam dan kearifan Nusantara:
1. Walisongo
Mengajarkan Islam melalui seni, adat, sastra, dan sosial sehingga Islam diterima tanpa pertentangan.
2. Syekh Subakir
Menyelaraskan kekuatan spiritual lama dengan aqidah Islam. Meneguhkan bahwa seluruh alam tunduk pada ke-Esa-an Allah.
3. Ki Ageng Noyo Genggong
Sebagai guru ruhani yang menanamkan adab, tirakat, dan ketajaman batin dalam bingkai keislaman.
Mereka bukan hanya pendakwah, tetapi juga pembimbing hati masyarakat.
C. Kesamaan Ajaran Makrifat dalam Islam dan Kejawen
Baik ajaran makrifat dalam Islam maupun kawruh jiwa dalam Kejawen memiliki tujuan yang sama: mendekat kepada Tuhan.
Makrifat dalam Islam:
Mengenal Allah melalui penyaksian hati
Menundukkan hawa nafsu
Muraqabah, dzikir, dan mujahadah
Kawruh Kejawen:
Ngelmu rasa untuk mengenal sang Pangeran
Laku prihatin, semedi, pengendalian diri
Perbedaan hanya pada bahasa dan metode, bukan pada arah pencarian spiritualnya.
Tujuan akhirnya tetap satu, yaitu:
Ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
D. Islam Nusantara: Tauhid yang Membumi
Islam yang hidup di Nusantara tidak tercerabut dari akar budaya. Nilai-nilai Islam menyatu dengan:
Unggah-ungguh sebagai adab Islami
Slametan sebagai doa kolektif kepada Allah
Tirakat sebagai mujahadah melawan nafsu
Tradisi tetap ada, tetapi dimurnikan maknanya dalam kerangka keimanan Islam.
E. Pesan untuk Generasi Modern
Kita memiliki dua pusaka berharga:
1. Islam sebagai sumber kebenaran dan petunjuk hidup
2. Kearifan leluhur sebagai identitas budaya dan etika
Maka tugas kita bukan menolak salah satunya, melainkan merawat keduanya agar tetap sejalan menuju kemuliaan iman.
Bersambung ke:
Kajian ke-16: Jalan Para Sufi Jawa – Antara Laku Keseharian dan Kematangan Ruhani
