BREAKING NEWS

Jalan Para Sufi Jawa: Antara Laku Keseharian dan Kematangan Ruhani

 

Gambar Ilustrasi

KAJIAN KE-16 -BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

 Jalan Para Sufi Jawa: Antara Laku Keseharian dan Kematangan Ruhani

A. Spiritualitas yang Membumi dalam Realitas

Ajaran para leluhur Jawa memandang bahwa kehidupan sehari-hari bukan hanya urusan dunia, tetapi juga ruang menempa jiwa. Dalam Islam tasawuf, keseharian manusia juga menjadi ladang ibadah: bekerja, bersedekah, menolong sesama, menjaga ucapan — semuanya bernilai pahala jika diniatkan karena Allah.

Di sinilah titik temu yang sangat harmonis:

 Menjadi hamba bukan hanya ketika beribadah di masjid atau saat semedi, melainkan setiap tarikan napas adalah kesempatan mendekat kepada Tuhan.

B. Laku Sufi dan Kawruh Rasa: Latihan Mengolah Hati

 Para wali dan guru Kejawen sama-sama menekankan adab dan kesucian hati.

 Beberapa praktiknya:

Islam Tasawuf:

Dzikir dan muraqabah

Istiqamah dalam ibadah wajib dan sunnah

Menjaga akhlak Rasulullah ï·º

Kejawen Jawa:

Semedi dan tapa brata

Laku prihatin mengendalikan nafsu

Unggah-ungguh dan tepa slira (empati sosial)

Perbedaan hanya pada istilah, namun arah yang dituju tetap tauhid dan kejernihan batin.

C. Para Sufi Jawa sebagai Teladan

 Sosok-sosok sufi di tanah Jawa menampilkan Islam yang penuh welas asih:

Sunan Bonang — mengajarkan rasa tauhid melalui sastra dan suluk

Sunan Kalijaga — membumikan dakwah lewat budaya rakyat

Ki Ageng Selo — dikenal sakti karena kekuatan doa dan kesalehan

Ki Ageng Noyo Genggong — mendidik santri dengan tirakat dan adab

Mereka bukan sekadar guru ilmu, tetapi penerang hati masyarakat.

D. Prinsip Utama: Manusia Luhur adalah Manusia Bermanfaat

 Baik Kejawen maupun Islam mengajar hal yang sama:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”

(Bersumber dari hadis Nabi Muhammad ï·º dan selaras dengan pitutur luhur Jawa:

 urip iku urup — hidup itu harus memberi cahaya)

Kesalehan bukan hanya di dalam diri, tapi memancar kepada lingkungan.

E. Generasi Baru, Jalan Baru, Tapi Rasa Tetap Sama

 Kita hidup di zaman modern, namun perjalanan menuju Tuhan tetap memerlukan:

Ilmu yang benar

Guru yang membimbing

Adab yang terjaga

Laku yang konsisten

Islam mengokohkan iman, Kejawen memperhalus rasa.

 Jika dipadukan secara benar, lahirlah umat yang kuat, cerdas, dan berbudaya.


Bersambung ke: Kajian ke-17: Harmoni Syariat dan Adat – Dari Masjid ke Padepokan, Dari Hukum ke Kebijaksanaa


Posting Komentar