BREAKING NEWS

Jalan Rasa dan Jalan Akal: Menyatukan Pengetahuan Lahir dan Kedalaman Batin Jawa–Islam

Gambar Ilustrasi

KAJIAN KE-18 BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

Jalan Rasa dan Jalan Akal: Menyatukan Pengetahuan Lahir dan Kedalaman Batin Jawa–Islam

A. Dua Jalan yang Sering Dipertentangkan

MDalam perjalanan spiritual manusia, sering muncul anggapan bahwa akal dan rasa adalah dua hal yang bertentangan. Akal dianggap rasional, sedangkan rasa dianggap mistis. Padahal dalam tradisi Islam Nusantara dan Kejawen Jawa, keduanya justru dipandang sebagai dua sayap yang membuat manusia mampu terbang menuju pemahaman sejati.

Islam menempatkan akal sebagai alat memahami tanda-tanda Tuhan.

Kejawen memuliakan rasa sebagai sarana menangkap makna terdalam kehidupan.

Tanpa akal, rasa mudah tersesat.

Tanpa rasa, akal menjadi kering.


B. Akal dalam Islam: Cahaya Penuntun Pemahaman

Dalam Islam, akal adalah anugerah besar. Banyak ayat mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Namun akal tidak berdiri sendiri; ia dipandu wahyu agar tidak melampaui batas.

Akal berfungsi untuk:

memahami hukum dan syariat

membedakan yang benar dan salah

mengatur kehidupan sosial

Namun Islam juga mengingatkan: tidak semua kebenaran dapat ditangkap oleh logika semata.


C. Rasa dalam Kejawen: Kepekaan Batin Penyingkap Makna

Dalam Kejawen, rasa adalah pusat kesadaran batin. Rasa tidak dilatih melalui debat, tetapi melalui keheningan, laku prihatin, dan pengendalian diri.

Rasa yang matang melahirkan:

empati

kebijaksanaan

kesabaran

kepekaan terhadap kehendak Gusti

Rasa tidak meniadakan akal, tetapi menyempurnakannya.


D. Titik Temu: Akal yang Tunduk, Rasa yang Terarah

Para wali dan leluhur Jawa mengajarkan bahwa puncak kebijaksanaan terjadi ketika:

akal tunduk pada kebenaran

rasa terarah pada tauhid

Inilah yang membuat dakwah Islam di Jawa diterima dengan damai. Pengetahuan lahir dan pengalaman batin tidak saling menegasikan, tetapi saling menopang.

Ungkapan Jawa menyebut: “Ngèlmu iku kalakone kanthi laku.” Ilmu sejati hanya hidup jika dijalani.


E. Teladan Tokoh Nusantara

Beberapa tokoh menjadi contoh kesatuan akal dan rasa:

Sunan Kalijaga — menggunakan akal budaya dan rasa masyarakat

Sunan Bonang — merangkai ilmu dan suluk

Ki Ageng Suryomentaram — mendalami rasa sebagai jalan kemerdekaan batin

Para kiai pesantren — mengajarkan kitab dan adab sekaligus

Mereka membuktikan bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan akan timpang.


F. Pesan untuk Kehidupan Modern

Di era informasi, akal kita dibanjiri data, tetapi rasa sering terabaikan. Akibatnya, banyak orang cerdas namun gelisah, tahu banyak tetapi mudah marah.

Kajian ini mengajak kita menyeimbangkan:

berpikir tanpa sombong

merasakan tanpa berlebihan

beragama tanpa kaku

berbudaya tanpa kehilangan arah

Ketika akal dan rasa berjalan seiring, lahirlah manusia yang tenang, arif, dan beriman.


Bersambung ke:

Kajian ke-19 — “Manusia Jawa dan Insan Kamil: Cita-cita Kesempurnaan dalam Islam dan Kejawen”



Posting Komentar