BREAKING NEWS

Laku Sadar Diri: Jalan Praktis Makrifat Jawa–Islam dalam Kehidupan Modern.


Gambar Ilustrasi

Kajian ke-14, BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

Pendahuluan

Setelah sebelumnya membahas tokoh-tokoh penting seperti Syeh Subakir dan Ki Noyo Genggong, kini kita masuk pada bagian paling relevan untuk manusia zaman sekarang: bagaimana makrifat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa meninggalkan akar budaya Jawa maupun nilai tauhid Islam.

Kajian ke-14 ini merangkum laku kesadaran praktis, yaitu bagaimana manusia menjalani hidup dengan kejernihan batin, kesadaran spiritual, dan integritas moral di tengah dunia modern yang serba cepat.

1. Konsep “Sadar Diri” dalam Islam dan Kejawen

Dalam Islam:

Sadar diri disebut muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu hadir dan mengawasi.

Manusia diajak untuk:

selalu ingat Allah (dzikrullah),

menjaga diri dari perbuatan buruk,

dan mengatur niat dengan benar.

Dalam Kejawen:

Disebut eling lan waspada, yaitu:

eling marang Gusti (ingat kepada Tuhan),

waspada marang rasa diri (mawas diri).

Kedua konsep ini selaras 100% dan sama-sama mengajarkan:

l Kesadaran batin adalah fondasi utama kebijaksanaan.”

2. Laku “Diam yang Aktif”: Meditasi Jawa & Tafakkur Islam

Laku diam bukan berarti pasif. Justru diam adalah latihan batin untuk mengenal diri.

Dalam Kejawen:

Disebut tapa brata, semedi, atau laku nenepi. Tujuannya:

menenangkan pikiran,

menurunkan ego,

memahami rasa sejati.

Dalam Islam:

Disebut tafakkur, tadabbur, dan dzikir qalbi. Tujuannya:

menghadirkan Allah dalam hati,

merenungkan ciptaan,

menundukkan hawa nafsu.

Kesamaan inti:

Keheningan membuka pintu makrifat.

Inilah sebabnya para wali, para resi, dan para penjaga spiritual Jawa selalu menjalankan laku sunyi.

3. Mengolah Rasa: Rasa Jawa dan Hati Nurani dalam Islam

Dalam Kejawen, rasa adalah pusat spiritual manusia.

Dalam Islam, qalb (hati) adalah organ batin yang menentukan baik-buruknya manusia.

Dua-duanya mengajarkan bahwa:

pikiran bisa salah,

hawa nafsu bisa menipu,

tetapi rasa/hati yang bersih tidak pernah menyesatkan.

Ciri hati sejati:

lembut,

tenang,

tidak gegabah,

tidak sombong,

dan mudah tersentuh kebenaran.

Itulah sebabnya makrifat bukan soal hafalan atau ritual semata—tetapi kualitas hati.

4. Tiga Laku Praktis Makrifat yang Bisa Dipakai Pembaca Media

Agar lebih bisa di fahami, saya masukkan tiga latihan sederhana yang aman, netral, dan bisa dilakukan siapa saja.

A. Laku 1 – “Nafas Sadar” (Kesadaran Diri Dasar)

Tujuan: menenangkan batin, membuka pintu rasa.

Caranya:

1. Duduk tenang.

2. Tarik napas perlahan sambil berkata dalam hati: “Ingsun eling…”

3. Hembuskan napas sambil berkata: “…marang Gusti.”

(Atau versi Islamnya: “Allah…” – “Hu…”)

Dilakukan 3–5 menit sudah cukup.

B. Laku 2 – “Mawas Rasa” (Mengamati Gerak Hati)

Tujuan: membersihkan batin dari sifat buruk.

Caranya:

Ketika marah, kecewa, atau gelisah, diam sejenak.

Rasakan apa yang muncul di dada.

Tanyakan dalam hati:

“Iki saka nurani apa saka nafsu?”

Ini latihan makrifat paling sederhana—membedakan suara hati dan suara ego.


C. Laku 3 – “Syukur Setiap Malam”

Tujuan: memurnikan hati.

Caranya:

Sebelum tidur, sebutkan 3 hal yang kamu syukuri.

Biar sedikit pun tidak apa-apa.

Rasa syukur menurunkan ego dan menenangkan jiwa.

Latihan ini dipakai baik oleh sufi Islam maupun pelaku Kejawen.

5. Persamaan Mendalam: Jalan Tengah Jawa dan Islam

Untuk membuat artikel ini “klop” dan menyatu, kita tekankan persamaan paling mendasar antara dua tradisi:

1. Tuhan itu Esa.

Kejawen menyebut Gusti, Islam menyebut Allah.

Satu sumber yang sama.

2. Manusia adalah makhluk batin.

Rasa (Jawa) = Qalb (Islam).

3. Jalan menuju Tuhan adalah kesucian hati.

Bukan kesaktian, bukan pakaian, bukan simbol.

4. Pengendalian diri adalah inti laku.

Nafsu dikendalikan, bukan diikuti.

5. Harmoni dengan alam adalah bagian dari ibadah.

Kejawen menjaga jagad, Islam melarang kerusakan bumi.

Ini fondasi yang membuat Kejawen dan Islam selaras, bukan bertentangan.

6. Penutup (Bersambung ke Kajian ke-15)

Kajian ke-14 menegaskan bahwa makrifat bukan hanya warisan masa lalu, tetapi ilmu hidup yang relevan untuk manusia modern.

Melalui laku sederhana—kesadaran napas, mawas rasa, dan syukur—setiap orang bisa mulai merasakan kedalaman spiritual Jawa dan Islam.

Jika dua jalur ini dipahami bersama, seseorang akan menemukan:

ketenangan,

kejernihan batin,

dan jalan pulang yang terang menuju Tuhan.

👉 Bersambung ke Kajian ke-15.


Posting Komentar