BREAKING NEWS

MANUNGGALING KAWULA GUSTI: TAUHID, KESADARAN BATIN, DAN JALAN KEHAMB AAN SEJATI

Gambar Ilustrasi

KAJIAN KE-20,  BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

MANUNGGALING KAWULA GUSTI: TAUHID, KESADARAN BATIN, DAN JALAN KEHAMB AAN SEJATI

A. Memahami Manunggaling Kawula Gusti Secara Jernih

Istilah Manunggaling Kawula Gusti sering disalahpahami sebagai penyatuan manusia dengan Tuhan secara fisik atau hakikat zat. Padahal, dalam pemahaman Kejawen yang matang dan Islam yang lurus, makna terdalamnya adalah kesatuan kehendak, bukan kesatuan wujud.

Manunggaling Kawula Gusti berarti:

kawula (hamba) menyadari posisinya sebagai makhluk,

Gusti (Tuhan) tetap Maha Esa dan Maha Tinggi,

yang “menyatu” adalah ketaatan, kesadaran, dan kepasrahan.

Dalam Islam, ini sejalan dengan makna ubudiyah—penghambaan total kepada Allah.

B. Tauhid sebagai Fondasi Utama

Dalam Islam Nusantara, tauhid menjadi pondasi yang tidak bisa ditawar. Seluruh laku batin, tirakat, dan tradisi hanya bernilai jika bermuara pada pengesaan Allah.

Tauhid bukan hanya pengakuan lisan, tetapi:

kesadaran hati bahwa segala sesuatu berasal dari Allah,

kepasrahan total atas takdir-Nya,

dan pengabdian dalam setiap aspek hidup.

Kejawen yang selaras dengan Islam tidak pernah menempatkan manusia setara dengan Tuhan, melainkan menempatkan manusia sebagai cermin adab yang tunduk pada Gusti.

C. Kesadaran Batin: Titik Temu Kejawen dan Tasawuf

Dalam tasawuf Islam, dikenal konsep fana’ dan baqa’—lenyapnya ego dan tegaknya kesadaran akan Allah.

Dalam Kejawen, dikenal proses nglebur rasa, yaitu luluhnya keakuan dan pamrih pribadi.

Keduanya mengajarkan hal yang sama:

Ego bukan musuh, tetapi harus dikendalikan

Nafsu bukan dihapus, tetapi ditundukkan

Kesadaran sejati lahir dari keikhlasan

Ketika ego menepi, kehendak Tuhan menjadi pusat orientasi hidup.

D. Manunggaling Kawula Gusti dalam Kehidupan Nyata

Konsep ini bukan sekadar wacana spiritual, tetapi tercermin dalam laku sehari-hari:

1. Dalam ibadah

Shalat, dzikir, dan doa menjadi sarana menghadirkan Allah dalam kesadaran penuh, bukan rutinitas kosong.

2. Dalam sosial

Sikap andhap asor, tepa slira, dan welas asih adalah wujud penghambaan yang nyata.

3. Dalam kerja dan tanggung jawab

Bekerja dipahami sebagai amanah, bukan sekadar mencari keuntungan.

Di sinilah Manunggaling Kawula Gusti hidup:

ketika niat, pikiran, dan tindakan selaras dalam pengabdian.

E. Teladan Leluhur dan Wali

Para wali dan tokoh leluhur Nusantara memahami konsep ini dengan sangat arif:

Sunan Kalijaga mengajarkan kepasrahan melalui budaya rakyat

Sunan Bonang menanamkan tauhid lewat suluk dan tembang

Ki Ageng Selo menunjukkan keteguhan iman dalam kesabaran

Ki Ageng Noyo Genggong menekankan adab dan tirakat tanpa kesombongan

Mereka hidup sederhana, namun jiwanya besar karena kesadarannya penuh.

F. Meluruskan Kesalahpahaman Modern

Di zaman sekarang, sebagian orang memahami Manunggaling Kawula Gusti secara ekstrem—seolah manusia bisa menjadi Tuhan. Pandangan ini bertentangan dengan Islam dan juga tidak sejalan dengan Kejawen sejati.

Kejawen yang luhur selalu menegaskan:

Gusti tetap Gusti

Kawula tetap kawula

Kesatuan terjadi pada rasa tunduk dan patuh, bukan pada zat

Kesadaran inilah yang menjaga spiritualitas tetap lurus dan menenangkan.

G. Relevansi untuk Manusia Masa Kini

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh ambisi, konsep Manunggaling Kawula Gusti menjadi penawar kegelisahan.

Ia mengajarkan:

berhenti dari keakuan berlebihan

hidup dengan kesadaran

menerima peran sebagai hamba

dan berjalan dengan tenang dalam takdir Tuhan

Orang yang sampai pada tahap ini tidak mudah goyah, tidak silau dunia, dan tidak kehilangan arah.

H. Penutup: Jalan Sunyi Menuju Kepasrahan Sejati

Manunggaling Kawula Gusti adalah puncak laku batin, baik dalam Kejawen maupun Islam Nusantara. Ia bukan tujuan yang bisa diklaim, melainkan keadaan batin yang dijaga dengan kerendahan hati.

Barang siapa mampu:

menjaga tauhid

mengolah rasa

menata akhlak

dan ikhlas menjadi hamba

maka ia telah berjalan di jalan para insan arif sepanjang sejarah Nusantara.

Bersambung ke:

KAJIAN KE-21

“Laku Sunyi dan Hiruk Dunia: Menjaga Spiritualitas di Tengah Zaman Digital”





Posting Komentar