MANUSIA JAWA DAN INSAN KAMIL: CITA-CITA KESEMPURNAAN HIDUP DALAM ISLAM DAN KEJAWEN
KAJIAN KE-19 BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-
MANUSIA JAWA DAN INSAN KAMIL: CITA-CITA KESEMPURNAAN HIDUP DALAM ISLAM DAN KEJAWEN
A. Pencarian Manusia Menuju Kesempurnaan
Sejak dahulu, manusia Jawa maupun umat Islam sama-sama memandang hidup sebagai perjalanan menuju kesempurnaan batin. Hidup tidak sekadar lahir, tumbuh, bekerja, lalu mati, melainkan proses panjang pembentukan jiwa agar kembali kepada Tuhan dalam keadaan sadar dan bersih.
Dalam Islam, tujuan ini dikenal dengan konsep Insan Kamil, yaitu manusia paripurna yang mampu mencerminkan sifat-sifat luhur Ilahi dalam kehidupan nyata.
Dalam Kejawen, dikenal konsep manusia utama atau wong linuwih, yakni manusia yang telah matang rasa, jernih batin, dan selaras dengan jagad.
Meski lahir dari tradisi berbeda, keduanya mengarah pada tujuan yang sama:
menjadi manusia yang sadar akan asal-usulnya dan tahu ke mana ia akan kembali.
B. Insan Kamil dalam Islam: Kesempurnaan Akhlak dan Tauhid
Insan Kamil bukan manusia tanpa kesalahan, melainkan manusia yang terus membersihkan diri dan menyempurnakan akhlaknya. Dalam ajaran tasawuf, Insan Kamil adalah pribadi yang:
Bertauhid murni kepada Allah
Meneladani akhlak Rasulullah
Menundukkan hawa nafsu
Hidup bermanfaat bagi sesama
Selalu sadar akan kehadiran Tuhan
Kesempurnaan di sini bukan fisik, melainkan kesadaran ruhani. Semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia mengenal Tuhannya.
C. Manusia Utama dalam Kejawen: Kematangan Rasa dan Keselarasan Jagad
Dalam Kejawen, manusia utama adalah mereka yang telah menempuh laku batin dengan penuh kesungguhan. Ia tidak mengejar kesaktian, melainkan kejernihan rasa.
Ciri-ciri manusia utama antara lain:
Andhap asor (rendah hati)
Eling lan waspada
Tidak dikuasai pamrih
Menjaga harmoni dengan alam
Bijak dalam tutur dan tindak
Manusia seperti ini dipercaya mampu menjadi penyejuk lingkungan dan penuntun masyarakat, bukan karena jabatan, tetapi karena kedalaman batinnya.
D. Titik Temu Insan Kamil dan Manusia Jawa Sejati
Jika ditelaah lebih dalam, konsep Insan Kamil dan manusia utama memiliki banyak persamaan mendasar:
Sama-sama menekankan pembersihan batin
Sama-sama menundukkan ego dan hawa nafsu
Sama-sama mengutamakan akhlak dan adab
Sama-sama bertujuan mendekat kepada Tuhan
Sama-sama membawa manfaat bagi lingkungan
Perbedaannya hanya terletak pada bahasa dan simbol, bukan pada arah spiritualnya.
Inilah sebabnya Islam dapat tumbuh subur di tanah Jawa tanpa konflik besar, karena nilai-nilainya menemukan rumah yang selaras dalam budaya lokal.
E. Teladan Para Leluhur dan Wali
Para wali dan tokoh leluhur Nusantara menjadi contoh nyata perwujudan Insan Kamil versi Jawa:
Sunan Kalijaga mengajarkan tauhid lewat budaya rakyat
Sunan Bonang menyatukan ilmu dan suluk
Ki Ageng Selo dikenal karena kekuatan doa dan kesabaran
Ki Ageng Noyo Genggong menekankan adab dan tirakat
Mereka tidak memamerkan kesalehan, tetapi menghadirkan keteduhan.
F. Relevansi Insan Kamil bagi Manusia Modern
Di zaman modern, manusia sering mengejar kesempurnaan lahir: harta, jabatan, pengakuan. Namun jiwa justru semakin gelisah.
Kajian ini mengingatkan bahwa kesempurnaan sejati adalah:
hati yang tenang
akal yang jernih
rasa yang halus
iman yang kokoh
Ketika manusia mampu menyeimbangkan akal, rasa, dan iman, ia sedang berjalan menuju kesempurnaan hakiki.
G. Penutup: Jalan Panjang Menuju Kesadaran Sejati
Manusia Jawa dan konsep Insan Kamil dalam Islam mengajarkan satu pesan penting:
hidup adalah proses, bukan hasil instan.
Kesempurnaan bukan tujuan akhir yang bisa diraih dengan cepat, melainkan perjalanan panjang penuh laku, kesabaran, dan kesadaran.
Barang siapa mampu menjaga tauhid, mengolah rasa, dan menata akhlak, maka ia telah melangkah di jalan para manusia luhur.
Bersambung ke:
KAJIAN KE-20
Manunggaling Kawula Gusti dalam Perspektif Tauhid dan Kesadaran Batin”
