Jalan Tengah Antara Tauhid, Budaya, dan Kesadaran Makrifat
Islam datang ke tanah Jawa bukan sebagai ajaran yang menghapus jati diri, melainkan sebagai cahaya yang menyinari apa yang telah hidup di dalam batin masyarakatnya. Oleh karena itu, Islam Jawa tumbuh sebagai jalan tengah: menjaga kemurnian tauhid sekaligus merawat kebijaksanaan budaya. Inilah wajah Islam Nusantara yang tidak kering oleh simbol, tidak pula kehilangan ruh.
Dalam pandangan Jawa, kehidupan bukan hanya soal lahir, tetapi juga batin. Segala gerak hidup harus selaras antara rasa, pikir, dan laku. Islam kemudian hadir menyempurnakan arah keselarasan itu dengan tujuan yang jelas: mengabdi hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Maka, Islam Jawa bukan agama baru, melainkan cara bijak menanamkan nilai Islam dalam tanah batin orang Jawa.
Tauhid dalam Bahasa Rasa Jawa
Orang Jawa tidak asing dengan konsep ketunggalan. Sejak lama dikenal istilah Gusti Kang Murbeng Dumadi—Tuhan Yang Menguasai Segala Ciptaan. Ketika Islam datang dengan ajaran tauhid, masyarakat Jawa tidak merasa asing, karena inti ajarannya sudah selaras: hanya ada satu Tuhan yang menjadi asal dan tujuan hidup.
Perbedaannya, Islam memperjelas dan meluruskan arah penghambaan. Jika dalam Kejawen terdapat simbol dan perumpamaan, Islam menegaskan bahwa semua ibadah, doa, dan pengharapan hanya ditujukan kepada Allah. Simbol tetap dipahami sebagai sarana budaya, bukan objek penghambaan. Di sinilah Islam Jawa menjaga batas dengan sangat arif.
Manunggaling Kawula Gusti sebagai Kesadaran Kehambaan
Dalam Islam Jawa, Manunggaling Kawula Gusti dipahami sebagai keadaan batin ketika manusia sepenuhnya sadar akan posisinya sebagai hamba. Yang menyatu bukan wujud, tetapi niat dan kepasrahan. Hamba tidak lagi berjalan atas keinginannya sendiri, melainkan mengikuti kehendak Ilahi dengan penuh kesadaran.
Konsep ini sejalan dengan makna ihsan dalam Islam: beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, sadar bahwa Allah selalu melihat. Inilah titik temu antara makrifat Islam dan laku batin Jawa. Keduanya menuntun manusia menuju kesadaran yang jujur dan rendah hati.
Peran Wali dan Leluhur dalam Membumikan Islam
Para wali di tanah Jawa memahami bahwa dakwah tidak bisa dilepaskan dari budaya. Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan para tokoh spiritual Jawa lainnya tidak merusak tatanan, tetapi mengisinya dengan nilai tauhid.
Wayang, tembang, slametan, dan tradisi sosial bukan dihapus, melainkan dimaknai ulang. Nilai-nilai Islam disisipkan dengan halus agar mudah diterima oleh rasa masyarakat. Inilah strategi dakwah yang lahir dari kebijaksanaan, bukan paksaan.
Akhlak sebagai Inti Spiritualitas
Islam Jawa menempatkan akhlak sebagai puncak laku spiritual. Orang yang mengaku dekat dengan Tuhan tetapi akhlaknya kasar dianggap belum sampai. Dalam Kejawen dikenal istilah ngolah rasa, sedangkan Islam menyebutnya tazkiyatun nafs—penyucian jiwa.
Sikap seperti andhap asor, tepo seliro, nrimo ing pandum, dan eling lan waspada bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan spiritual. Semua ini sejalan dengan ajaran Rasulullah yang menekankan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Islam Jawa di Tengah Tantangan Zaman
Di era modern, Islam Jawa menghadapi tantangan besar: antara arus purifikasi yang kaku dan budaya yang kehilangan arah spiritual. Islam Jawa hadir sebagai penyeimbang—menjaga akidah tanpa memutus akar budaya.
Islam Jawa mengajarkan bahwa modernitas tidak harus menghilangkan kearifan, dan keberagamaan tidak harus kehilangan rasa. Selama tauhid dijaga, akhlak dijunjung, dan budaya dimaknai secara bijak, Islam akan tetap hidup dan membumi.
Penutup: Jalan Sunyi yang Tetap Menyala
Islam Jawa adalah jalan sunyi yang penuh makna. Ia tidak berisik, tidak merasa paling benar, tetapi terus berjalan menjaga keseimbangan antara langit dan bumi. Di dalamnya, tauhid berdiri kokoh, budaya tetap hidup, dan manusia belajar menjadi hamba yang sadar.
Di sinilah Islam Jawa menemukan jati dirinya: bukan di klaim, tetapi di laku; bukan di simbol, tetapi di rasa; bukan di kata, tetapi di akhlak.
**Bersambung ke:
KAJIAN KE-23
“Makrifat, Laku Batin,
