BREAKING NEWS

Makna Sejati Manunggaling Kawulo Gusti Dalam Cahaya Tauhid dan Makrifat Jawa

Gambar Ilustrasi
 

Kajian Ke-21 BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID- 

Perjalanan spiritual manusia sejatinya adalah perjalanan untuk kembali mengenali siapa dirinya dan kepada siapa ia bergantung. Dalam ajaran leluhur Jawa dan Islam Nusantara, dikenal sebuah konsep luhur yang sering dibicarakan: Manunggaling Kawulo Gusti — bersatunya hamba dengan Tuhannya. Namun makna “bersatu” di sini bukanlah menyatu secara fisik, bukan pula melebur secara zat, melainkan bersatu dalam kesadaran, kepasrahan, dan penghambaan yang sempurna.

Dalam Islam, puncak spiritualitas dikenal sebagai maqam makrifat, yaitu ketika seorang hamba benar-benar “mengenal” Tuhannya. Bukan sekadar mengenal melalui lisan atau bacaan, melainkan mengenal melalui penyaksian hati dan kesadaran batin. Inilah yang kemudian sejalan dengan ajaran kejawen: Sangkan Paraning Dumadi — memahami dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali. Jawabannya satu: berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Ketika seorang Jawa berkata, Gusti ora nate adoh, sing adoh kui atine manungsa, artinya Tuhan tidak pernah jauh, yang jauh adalah hati manusia itu sendiri. Ini selaras dengan firman Allah bahwa Dia lebih dekat dari urat leher manusia. Kedekatan ini bukanlah kedekatan jarak, melainkan kedekatan pengawasan, kasih sayang, dan kesadaran spiritual.

Maka Manunggaling Kawulo Gusti adalah keadaan ketika hati manusia benar-benar terikat kepada Allah, pikirannya tunduk pada kehendak Allah, langkah hidupnya berada dalam ridha Allah. Bukan berarti manusia menjadi “Tuhan”, tetapi manusia menemukan kehambaannya yang paling sempurna. Di sinilah ajaran Kejawen dan Islam bertemu pada satu titik: penyempurnaan diri melalui penyucian hati, penguatan tauhid, dan akhlak yang luhur.

Orang Jawa diajarkan untuk eling lan waspada: selalu ingat kepada Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak. Islam mengajarkan takwa dengan makna yang sama. Orang Jawa diajarkan sumarah, yaitu pasrah total pada Gusti. Islam mengajarkan tawakal yang hakiki. Orang Jawa menjunjung andhap asor—kerendahan hati, sementara Islam menekankan akhlak Rasulullah sebagai teladan tertinggi. Inilah titik pertemuan: jalan yang berbeda, bahasa yang berbeda, tetapi tujuan yang sama — mendekat kepada Yang Maha Tunggal.

Mereka yang telah sampai pada derajat kesadaran ini tidak lagi sombong dengan ilmu, tidak merasa paling suci, dan tidak merendahkan keyakinan orang lain. Justru semakin dalam makrifatnya, semakin lembut budi pekertinya. Karena ia memahami bahwa hakikat tertinggi spiritualitas bukanlah kesaktian, bukan pula penguasaan ilmu gaib, melainkan ketenangan jiwa, kelapangan hati, dan kedekatan sejati dengan Allah.

Di titik inilah Manunggaling Kawulo Gusti bukan sekadar wacana, tetapi jalan hidup. Seorang yang telah menyatu kesadarannya dengan kehendak Allah akan hidup penuh manfaat, menjaga harmoni dengan sesama, menghormati leluhur, menjaga bumi tempat berpijak, dan tetap berdiri teguh dalam tauhid yang murni.

Perjalanan ini belum selesai… karena makrifat adalah jalan panjang yang harus terus diselami, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bersambung…ke kajian 22.


Posting Komentar