Manunggaling Kawula Gusti: Pendalaman Makna, Etika Hidup, dan Kesadaran Sosial
Kajian ke 20- BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-
Manunggaling Kawula Gusti: Pendalaman Makna, Etika Hidup, dan Kesadaran Sosial
I. Manunggaling Kawula Gusti Bukan Ilmu Klaim, tapi Ilmu Jalan
Dalam tradisi Jawa yang sejati, Manunggaling Kawula Gusti bukan sesuatu yang diumumkan, melainkan dijalani. Seseorang tidak pernah berkata “aku sudah manunggal”, sebab justru pengakuan itu tanda ego masih bekerja.
Hal ini sangat selaras dengan ajaran Islam tasawuf, di mana para sufi besar justru semakin rendah hati ketika mencapai kedalaman makrifat. Semakin dekat kepada Tuhan, semakin merasa kecil sebagai hamba.
Kesadaran ini melahirkan satu sikap penting:
menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, bukan merasa paling benar.
II. Etika Hidup sebagai Wujud Manunggaling Kawula Gusti
Dalam Kejawen, ukuran keberhasilan laku batin bukan pada kesaktian, tetapi pada tata krama dan kehalusan budi.
Dalam Islam, ukuran keimanan juga tercermin pada akhlak.
Karena itu, Manunggaling Kawula Gusti tampak dalam hal-hal sederhana:
jujur meski tidak diawasi
sabar ketika diuji
tidak menyakiti meski mampu
tidak sombong meski berilmu
tidak merendahkan meski berbeda
Inilah titik temu antara adab Jawa dan akhlak Islam.
III. Kesadaran Sosial: Hamba Tuhan adalah Pelayan Sesama
Manunggaling Kawula Gusti bukan laku menyendiri semata. Ia justru menumbuhkan kepekaan sosial. Orang yang sadar sebagai kawula akan paham bahwa semua manusia adalah ciptaan Gusti.
Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin.
Dalam Jawa, ini tercermin dalam pitutur:
“urip iku urup” — hidup harus memberi cahaya.
Maka seseorang yang matang secara spiritual akan:
ringan menolong
tidak memanfaatkan orang lain
menjaga keharmonisan lingkungan
dan tidak memecah belah masyarakat
IV. Menjaga Keseimbangan Lahir dan Batin
Laku batin tanpa keseimbangan lahir akan melahirkan pelarian.
Sebaliknya, kehidupan lahir tanpa kedalaman batin melahirkan kekosongan.
Islam Nusantara dan Kejawen mengajarkan keseimbangan ini:
bekerja dengan sungguh-sungguh
beribadah dengan khusyuk
bergaul dengan santun
menyepi secukupnya
bermasyarakat dengan sadar
Keseimbangan inilah yang menjaga manusia tetap waras, teduh, dan berdaya.
V. Manunggaling Kawula Gusti di Zaman Modern
Di era digital, banyak orang kehilangan makna karena:
hidup serba cepat
mudah tersulut emosi
haus pengakuan
terjebak citra diri
Konsep Manunggaling Kawula Gusti menjadi pengingat bahwa:
nilai diri tidak ditentukan oleh pujian
kedalaman hidup lahir dari kesadaran
dan ketenangan datang dari kepasrahan
Manusia yang sadar sebagai hamba tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk dunia.
VI. Penegasan Akhir
Manunggaling Kawula Gusti adalah puncak kesadaran, bukan puncak status.
Ia bukan ajaran untuk meninggikan diri, tetapi untuk mengosongkan ego.
Baik dalam Kejawen maupun Islam Nusantara, pesan utamanya sama:
Semakin seseorang mengenal Gusti,
semakin ia tahu bagaimana menjadi manusia.
Bersambung ke:
KAJIAN KE-21
Laku Sunyi dan Hiruk Dunia: Menjaga Kesadaran Spiritual di Tengah Zaman Digital”
