Ribuan Jagal dan Pedagang Daging Surabaya Mogok Massal, Tolak Pemindahan RPH Pegirian ke TOW
SURABAYA - BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID Gelombang penolakan keras terhadap rencana pemindahan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pegirian ke kawasan Tambak Oso Wilangun (TOW) terus membesar. Ribuan jagal dan pedagang daging se-Kota Surabaya dikabarkan akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sekaligus mogok kerja massal pada Senin, 12 Januari 2026.
Aksi tersebut diperkirakan akan melibatkan sedikitnya seribu orang massa, terdiri dari jagal, pekerja RPH, hingga pedagang daging yang selama ini menggantungkan hidupnya pada operasional RPH Pegirian. Mereka menilai kebijakan Pemerintah Kota Surabaya tersebut dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan para pelaku usaha dan pekerja terdampak.
Tolak Kebijakan Sepihak, Ribuan Pekerja Terancam Kehilangan Mata Pencaharian
Ketua Koordinator Aksi, Abdullah Mansur, menegaskan bahwa rencana pemindahan RPH Pegirian berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang serius, terutama meningkatnya angka pengangguran di Surabaya.
“Pemindahan RPH Pegirian ini jelas akan merugikan banyak pihak. Ribuan pekerja terancam kehilangan mata pencaharian. Bahkan saat ini saja sudah banyak jagal yang memilih berhenti bekerja,” ujar Abdullah Mansur kepada wartawan. Minggu 11/01/2026.
Ia menilai, keputusan relokasi RPH tidak mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, termasuk kesiapan infrastruktur di lokasi baru.
Biaya Operasional dan Akses Jalan Jadi Sorotan
Selain ancaman pengangguran, Abdullah juga menyoroti lonjakan biaya operasional yang akan ditanggung para jagal apabila RPH dipindahkan ke TOW. Menurutnya, ongkos produksi, distribusi, hingga risiko keselamatan kerja semakin tinggi.
“Biaya di tempat baru jauh lebih mahal. Akses jalan menuju RPH TOW juga dikenal rawan kecelakaan. Di media sosial hampir setiap hari ada kecelakaan tunggal di jalur tersebut,” ungkapnya.
Ia menyebut jalur menuju RPH TOW sebagai “jalur tengkorak” yang dinilai membahayakan keselamatan para pekerja, khususnya yang beroperasi pada malam hingga dini hari.
Ancaman Krisis Pasokan Daging di Surabaya
Lebih lanjut, Abdullah Mansur menegaskan bahwa aksi mogok kerja massal akan berdampak langsung pada rantai pasok daging di Kota Surabaya.
RPH Pegirian selama ini diketahui sebagai salah satu pusat pemotongan hewan terbesar di kota tersebut.
“Jika pasokan dari RPH Pegirian dihentikan, dampaknya akan sangat luas. Mall, UMKM, rumah sakit, hingga pelaku usaha kuliner dipastikan tidak akan mendapatkan suplai daging,” tegasnya.
Ia menyebut aksi ini sebagai alarm keras bagi Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga pemerintah pusat.
“Ini sinyal serius. Jangan anggap sepele, karena efeknya bukan hanya lokal, tapi juga bisa berdampak pada stabilitas ekonomi,” tandas Abdullah.
Desak Pemkot Surabaya Batalkan Pemindahan RPH
Melalui aksi ini, para jagal dan pedagang daging mendesak agar pemindahan RPH Pegirian ke TOW dibatalkan, serta meminta pemerintah membuka ruang dialog yang transparan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya terkait tuntutan tersebut.
Namun, situasi ini diprediksi akan menjadi perhatian serius mengingat potensi gangguan ekonomi dan stabilitas pasokan pangan di Kota Pahlawan.
Najib Sby / Redaksi.
