Pergeseran Orientasi Politik Luar Negeri Indonesia di Era Prabowo: Dari Barat ke Timur Menurut Pengamat"
Jakarta, BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID Baru-baru ini, Prabowo Subianto telah melakukan serangkaian kunjungan ke beberapa negara di Asia dan Eropa, termasuk China, Jepang, Prancis, Serbia, Turki, dan yang terbaru, Rusia. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Prabowo untuk memperkuat relasi global Indonesia dan mengukuhkan posisi strategis negara ini di panggung internasional.
Dr. Dafri Agus Salim, M.A., seorang Pengamat Kebijakan Luar Negeri dari Fisipol UGM, mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut memberikan indikasi tentang potensi pergeseran orientasi politik luar negeri Indonesia.
Dalam pernyataannya pada siaran pers tanggal 9 Agustus 2024, Dr. Dafri Agus Salim mengungkapkan, "Saya merasa sepertinya kunjungan ini memberi sinyal atau tanda bahwa orientasi politik kita kemungkinan akan sedikit bergeser. Dari yang tadinya agak barat, ini mungkin kita agak ke timur. Dalam konteks ini maksudnya ke negara-negara yang tidak selalu akrab dengan negara-negara Barat, terutama Amerika.”
Dr. Dafri menyatakan bahwa dari rangkaian kunjungan yang dilakukan, Prabowo tidak mengunjungi negara-negara Barat. Sebaliknya, Prabowo menunjukkan keinginan untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara Timur seperti Turki, China, dan Rusia yang memiliki potensi besar dalam hubungan ekonomi perdagangan Indonesia ke depan. Kunjungan ini mencerminkan niat Prabowo untuk mengangkat posisi Indonesia sebagai negara yang dapat memperkuat kerjasama dengan negara-negara Timur di panggung internasional.
Dafri juga berpendapat bahwa tujuan kunjungan yang dilakukan oleh Prabowo tampaknya adalah untuk mencari peluang baru dalam kerja sama ekonomi perdagangan Indonesia di luar lingkup negara-negara Barat.
Soal kunjungan Prabowo ke China-Rusia ini dapat berpengaruh besar terhadap hubungan politik luar negeri Indonesia dengan Amerika yang berseberangan nilai-nilai politiknya dengan negara-negara tersebut. Strategi Indonesia untuk mendekati China, Rusia, Turki, dilakukan dalam rangka meningkatkan posisi tawar terhadap negara-negara Barat yang selama ini dianggap menekan dan mengabaikan kepentingan Indonesia
Dengan memperkuat posisi tawar, kata Dafri, memungkinkan Indonesia mempunyai akses yang lebih besar untuk merealisasikan kepentingannya.
“Menurut saya, ada dua tujuannya, untuk meningkatkan posisi tawar untuk mendapatkan akses lebih besar di bidang keamanan, misalnya pembelian senjata, dukungan politik, dst. Bagian dari strategi Prabowo nanti untuk membuka pasar yang lebih luas dengan kerja sama ekonomi di luar negara-negara mainstream Barat,” terang Dafri.
“Jadi, jangan-jangan kenapa kita sekarang dekat sekali dengan China, padahal dulu Prabowo seperti terlihat anti-China dari orasi-orasinya, itu dipengaruhi oleh kekuatan politik di dalam negeri, termasuk dalam hal ini pengusaha,” papar Dafri.
Dengan pergeseran orientasi politik luar negeri yang terjadi ini menunjukkan bahwa Indonesia belum dapat menjalankan politik bebas aktif yang murni sesuai dengan konsep yang ada.
“Di era Soekarno kita sangat dekat dengan Timur, tapi di era Soeharto kita dekat dengan Barat. Tidak bisa dikatakan sebagai bebas aktif, lebih bisa dikatakan sebagai pragmatisme. Kita tidak peduli lagi, mau barat, mau timur, kalau dia menguntungkan ya, jadi teman kita. Jadi bukan bebas aktif seperti yang dikonsepkan. Saya melihat ke depannya juga oleh Prabowo tidak akan murni,” pungkasnya.
