BREAKING NEWS

Kepemimpinan Berbasis Kawruh dan Tauhid: Ikhtiar Mewujudkan Masyarakat Adil dan Welas Asih.



Gambar Ilustrasi

Kajian ke-9

BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-Kepemimpinan Berbasis Kawruh dan Tauhid: Ikhtiar Mewujudkan Masyarakat Adil dan Welas Asih.

Pendahuluan

Setelah membahas peran keluarga dalam pembentukan karakter generasi baru, kini kita memasuki ranah yang lebih luas: kepemimpinan dan tata masyarakat.

Kedua ajaran besar—Kejawen Nusantara dan Islam—sama-sama menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak hanya berhenti pada hubungan dengan Tuhan atau keluarga, tetapi harus berbuah pada kepemimpinan yang bijaksana dan keadilan sosial.

Kajian ke-9 mengulas bagaimana nilai‐nilai luhur dari dua tradisi ini dapat membentuk watak pemimpin dan masyarakat yang beradab.

1. Kepemimpinan sebagai “Kawula” sekaligus “Pelindung Rakyat”

Dalam falsafah Jawa, pemimpin disebut “pangemban kawula” — pengemban amanah rakyat, bukan penguasa rakyat.

Sementara dalam Islam, kepemimpinan disebut amanah, bukan hak istimewa.

Keduanya mengajarkan prinsip yang sangat serupa:

“Pemimpin sejati bukan yang ingin dihormati, tetapi yang rela berkorban demi yang dipimpin.”

Pemimpin bukan “sing paling dhuwur”, tetapi yang paling besar tanggung jawabnya.


2. Kawruh Kejawen & Tauhid sebagai Etika Kekuasaan

Kejawen mengajarkan agar pemimpin memiliki:

Waskita (visioner),

Tepa slira (empati),

Tatag, tatag, tutug (teguh, stabil, tuntas),

Andhap asor (rendah hati).

Islam menegaskan empat sifat utama dalam kepemimpinan:

Sidq (kejujuran),

Amanah (dapat dipercaya),

Fathanah (cerdas/visioner),

Tabligh (komunikatif dan transparan).

Jika kedua pendekatan ini berpadu, muncul gambaran pemimpin ideal: tegas namun welas asih, berwibawa namun rendah hati, kuat namun tidak zalim.


3. Kepemimpinan Laku Batin: Sadar Kuasa sebagai Ujian, Bukan Fasilitas

Kekuasaan dalam perspektif Jawa dianggap sebagai “ujian kebatinan tertinggi”.

Seseorang baru terlihat jati dirinya ketika memegang kuasa.

Dalam Islam, kekuasaan juga dipandang sebagai fitnah (ujian besar) yang bisa mengangkat derajat atau menjatuhkan seseorang.

Artinya, pemimpin spiritual:

tidak mudah mabuk pujian,

tidak anti kritik,

tidak memperalat agama atau budaya untuk kepentingan pribadi,

dan senantiasa mengontrol hawa nafsu kekuasaan.

“Puncak spiritual bukan saat manusia mengasingkan diri, tetapi saat ia tetap jernih meski memegang kuasa.”

4. Masyarakat Rukun sebagai Buah Kepemimpinan

Sistem nilai Jawa mengarah pada tata tentrem kertaraharja — masyarakat damai, sejahtera, berkeadilan.

Islam mengajarkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang baik dan diberkahi.

Wujudnya dalam kehidupan:

Keduanya menjanjikan masyarakat damai bukan lewat paksaan, tetapi lewat keteladanan pemimpin dan keluhuran akhlak rakyatnya.


5. Model Kepemimpinan Nusantara Masa Depan

Di zaman kontemporer, kepemimpinan sering dinilai dari citra, retorika, dan popularitas.

Namun nilai Kejawen–Islam mengajukan alternatif:

pemimpin yang memiliki arah spiritual, bukan sekadar arah politik,

pemimpin yang mendidik rakyat, bukan meninabobokkan rakyat,

pemimpin yang membangun peradaban, bukan hanya infrastruktur,

pemimpin yang membuat rakyat dewasa, bukan bergantung.

Model kepemimpinan seperti ini akan melahirkan masyarakat yang mandiri, bermartabat, dan berketuhanan.

Penutup (Bersambung)

Kajian ke-9 mengajak kita menyadari bahwa harmoni nilai Jawa dan Islam bukan hanya membangun manusia batiniah, tetapi juga membentuk tatanan masyarakat yang adil dan welas asih.

 Selanjutnya, dalam Kajian ke-10, kita akan membahas perjalanan ini menuju fase paling filosofis — bagaimana spiritualitas Jawa–Islam membentuk visi peradaban dan masa depan Nusantara.

https://www.busermediainvestigasi.id/?m=1

— Bersambung ke Kajian ke-10


Posting Komentar