BREAKING NEWS

Gembala Geni Audiensi dengan Disnaker Gresik, Soroti Ratusan Lamaran Kerja Warga yang Belum Jelas Progresnya

Gresik — BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID
Gelombang kegelisahan pencari kerja kembali mencuat di Kabupaten Gresik. Sekitar 30 orang yang tergabung dalam Gembala Geni menggelar audiensi terbuka dengan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Gresik beserta jajaran staf, Rabu (28/01/2026), di Kantor Disnaker Gresik, Jalan Dr. Wahidin SHD No. 233, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas.
Audiensi ini bukan tanpa alasan.

Gembala Geni datang membawa setumpuk persoalan serius yang selama berbulan-bulan tak kunjung menemukan kejelasan, mulai dari ratusan berkas lamaran kerja warga Gresik yang “mengendap”, hingga dugaan diskriminasi sistemik dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Dalam forum tersebut, Gembala Geni secara tegas menyampaikan tujuh poin tuntutan utama. Di antaranya mempertanyakan nasib sekitar 250 lamaran kerja di kawasan JIIPE yang dititipkan ke Disnaker sejak 18 November 2025, serta 155 lamaran lain yang masuk pada 22 Oktober 2025.

Selain itu, mereka juga menyoroti lamaran warga yang dimasukkan Disnaker ke PT Hailiang, tanpa kejelasan progres dan hasil.

Tak hanya itu, janji terhadap 22 calon pekerja yang telah dinyatakan cukup ber-KTP Gresik sejak September—dan disaksikan langsung oleh Bupati, pihak JIIPE, serta Disnaker—kembali ditagih. Gembala Geni juga meminta pertanggungjawaban atas MoU yang telah disepakati, termasuk komitmen Disnaker untuk turun langsung menengahi dan memberi solusi saat Gembala Geni melakukan pendampingan door to door setiap satu bulan sekali.

Sorotan lain yang tak kalah keras adalah janji Disnaker untuk secara rutin, setiap tiga minggu sekali, mempertemukan perusahaan dengan calon pekerja dari Gembala Geni, serta komitmen melakukan sosialisasi ke perusahaan-perusahaan terkait larangan diskriminasi terhadap pelamar kerja.

Audiensi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik Zainul Arifin, S.STP., MM, beserta staf, Kapolsek Kebomas Kompol Gatot Setyo Budi, S.H., M.H., bersama anggota, serta personel Samapta Polres Gresik guna memastikan situasi tetap kondusif.

Dalam pernyataannya di hadapan peserta audiensi, Zainul Arifin menyampaikan komitmen untuk melakukan pembenahan dan koordinasi lanjutan.

“Kita akan mengupayakan sosialisasi terkait diskriminasi. Dengan audiensi ini ayo kita koordinasikan kembali apa yang masih perlu kita komunikasikan. Siapa tahu data di kami perlu dibenahi supaya lebih akurat dan komplit.

Kesepakatan hari ini, kita sama-sama bekerja sama agar pekerja, Disnaker, dan perusahaan di Gresik bisa sinergi. Semoga usaha kita semua membantu warga Gresik yang belum bekerja bisa tercapai,” ujarnya sekitar pukul 13.00 WIB.

Namun, usai palu diketok sebagai tanda berakhirnya audiensi, pernyataan keras justru datang dari Ketua Gembala Geni, Ali Candi. Ia menyampaikan rencana lanjutan untuk menggelar audiensi ke Kapolres Gresik dalam waktu dekat.
“Dalam minggu ini kami ingin audiensi ke Kapolres Gresik.

Kami ingin disampaikan oleh Pak Kapolsek. Intinya kami ingin dikawal dan diayomi, bukan ditakuti atau diobrak. Justru kalau ada aksi sampai rusuh, itu tanda kegagalan kepolisian. Mestine ngayomi,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Kebomas Kompol Gatot Setyo Budi, S.H., M.H., menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan rencana audiensi lanjutan tersebut.

“Terkait audiensi dengan Kapolres, boleh saja. Biar kenal, nanti akan saya sampaikan,” ujarnya singkat.
Pernyataan paling tajam kembali disampaikan Ali Candi setelah audiensi berakhir. Ia menegaskan langkah Gembala Geni untuk mengambil kembali berkas lamaran warga yang selama ini dititipkan di Disnaker.

“Kami ingin menciptakan hal baru. Salah satunya mengambil kembali lamaran di Disnaker.

Tujuannya agar perusahaan maupun pemerintah yang membidangi tenaga kerja itu tidak mblaeno. Kalau dititipi lamaran, ya harus di-estokno. Bahkan tadi jelas, kalau lamaran masyarakat sampai dihilangkan oleh pihak Disnaker, itu pidana dan akan kami gugat,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat Gresik untuk lebih kritis dan berani memperjuangkan haknya.

“Ini edukasi buat masyarakat Gresik. Jangan kecil hati. Kalian bisa mempertanyakan dan mengambil kembali lamaran kalian. Kalau dihilangkan, itu bentuk pidana. Kami harap masyarakat cerdas dan tidak patah semangat hidup. Genpatra!” pungkas Ali Candi.

Audiensi ini menjadi alarm keras bagi tata kelola ketenagakerjaan di Gresik. Transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan hak pencari kerja kini berada di bawah sorotan publik. Apakah janji-janji tersebut akan benar-benar direalisasikan, atau kembali menjadi catatan kosong? BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID akan terus mengawal.

HDK/Redaksi


Posting Komentar