BREAKING NEWS

Laku Sumarah, Tawakal, dan Seni Menyerahkan Diri kepada Allah

 KAJIAN KE-24- BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-

Laku Sumarah, Tawakal, dan Seni Menyerahkan Diri kepada Allah

Gambar Ilustrasi
Dalam perjalanan panjang spiritualitas Islam Jawa, ada satu fase yang tidak bisa dilewati begitu saja: fase kepasrahan yang matang. Dalam bahasa Jawa disebut sumarah, dalam Islam disebut tawakal. Keduanya bukan sekadar istilah, melainkan keadaan batin yang lahir dari pemahaman tauhid yang mendalam.

Sumarah bukan berarti menyerah sebelum berjuang. Tawakal bukan berarti berhenti berikhtiar. Justru keduanya lahir setelah usaha maksimal dilakukan. Di sinilah titik halus yang sering tidak dipahami: manusia wajib berusaha sepenuh kemampuan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah.


1. Sumarah: Kedewasaan Spiritual dalam Tradisi Jawa

Dalam laku Kejawen, sumarah adalah puncak ketenangan batin. Ia muncul ketika seseorang telah melalui proses panjang: mengolah rasa, menundukkan ego, dan memahami bahwa hidup bukan sepenuhnya milik dirinya.

Orang yang sumarah tidak mudah panik ketika gagal. Tidak sombong ketika berhasil. Tidak iri pada keberhasilan orang lain. Tidak marah pada takdir yang belum sesuai harapan. Ia sadar bahwa hidup ini bagian dari skenario besar yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami.

Namun sumarah bukan sikap pasif. Leluhur Jawa tetap mengajarkan kerja keras, ketekunan, dan tanggung jawab. Sumarah datang setelah laku dijalankan, bukan sebelum.


2. Tawakal: Buah dari Tauhid yang Kokoh

Dalam Islam, tawakal adalah konsekuensi logis dari tauhid. Jika seseorang benar-benar yakin bahwa Allah Maha Mengatur, maka ia tidak akan menggantungkan hatinya pada manusia, jabatan, harta, atau kekuasaan.

Tawakal lahir dari keyakinan bahwa:

Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik,

Allah Maha Mengatur waktu yang tepat,

Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir.

Namun Islam menegaskan satu hal penting: tawakal harus didahului ikhtiar. Rasulullah sendiri tetap merencanakan strategi, berdiskusi, dan bekerja keras. Setelah itu, barulah beliau menyerahkan hasil kepada Allah.

Di sinilah sumarah dan tawakal bertemu: keduanya adalah kepasrahan yang aktif, bukan pasif.


3. Hubungan Sumarah dengan Manunggaling Kawula Gusti

Pada tingkat yang lebih dalam, sumarah adalah pintu menuju pemahaman Manunggaling Kawula Gusti. Ketika ego manusia mulai luruh, ketika keinginan pribadi tidak lagi mendominasi, maka kehendak Ilahi terasa lebih jelas dalam hidupnya.

Manunggaling bukan penyatuan zat. Islam menegaskan bahwa Allah tetap Maha Tinggi dan manusia tetap hamba. Namun dalam kesadaran batin, terjadi keselarasan kehendak. Apa yang Allah tetapkan diterima dengan ridha. Apa yang Allah larang dijauhi tanpa berat.

Di titik ini, hidup menjadi ringan. Bukan karena tanpa ujian, tetapi karena hati tidak lagi melawan takdir.


4. Tantangan Kepasrahan di Era Modern

Di zaman sekarang, manusia cenderung ingin mengontrol segalanya. Karier harus sesuai target. Rezeki harus sesuai ambisi. Hidup harus sesuai rencana. Ketika realita tidak cocok dengan ekspektasi, lahirlah stres, kecemasan, bahkan kehilangan arah.

Nilai sumarah dan tawakal menjadi sangat relevan. Islam Jawa mengajarkan bahwa:

Kita boleh merencanakan,

Kita wajib berusaha,

Tetapi kita tidak berhak memaksa hasil.

Tanpa kepasrahan, ambisi bisa berubah menjadi kesombongan. Tanpa tawakal, usaha bisa berubah menjadi beban.


5. Sumarah Bukan Fatalisme

Banyak yang salah memahami sumarah sebagai pasrah tanpa daya. Padahal dalam laku Jawa yang sejati, sumarah adalah hasil dari pengendalian diri yang kuat.

Orang yang sumarah tetap bekerja, tetap belajar, tetap berjuang. Bedanya, ia tidak menggantungkan harga dirinya pada hasil. Ia tidak kehilangan jati diri ketika gagal. Ia tidak berubah menjadi angkuh ketika berhasil.

Inilah bentuk kematangan spiritual yang juga diajarkan dalam Islam melalui konsep ridha dan sabar.


6. Tauhid yang Hidup dalam Laku Sehari-hari

Islam Jawa tidak hanya berbicara soal konsep, tetapi laku nyata. Sumarah dan tawakal terlihat dalam:

Kejujuran dalam bekerja

Kesabaran dalam rumah tangga

Keteguhan dalam ibadah

Kelembutan dalam berbicara

Kerendahan hati dalam pergaulan

Inilah bentuk makrifat yang membumi. Tidak perlu terlihat sakti. Tidak perlu terlihat suci. Cukup menjadi hamba yang sadar posisi.


Penutup: Kepasrahan yang Menguatkan, Bukan Melemahkan

Sumarah dan tawakal bukan membuat manusia lemah, melainkan membuatnya stabil. Orang yang hatinya bersandar kepada Allah tidak mudah goyah oleh pujian maupun hinaan. Ia tidak hidup untuk pengakuan manusia, tetapi untuk ridha Tuhannya.

Di sinilah Islam Jawa menunjukkan keindahannya: tauhid tetap murni, budaya tetap hidup, batin tetap halus, dan akhlak tetap menjadi mahkota.

Sumarah adalah seni menyerahkan diri.

 Tawakal adalah kekuatan untuk tetap berdiri.

 Dan keduanya adalah jalan sunyi menuju kedewasaan spiritual.


Bersambung ke:

 KAJIAN KE-25

 “Tauhid dan Kepemimpinan Batin dalam Tradisi Islam Jawa”


Posting Komentar