BREAKING NEWS

Lautan Jamaah Tumpah Ruah di Haul Akbar Sunan Drajat ke-516, Pak Yes dan Gus Aulia Serukan Pelestarian Budaya Leluhur dan Harmoni Sosial

LAMONGAN – BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID
Ribuan jamaah dari berbagai penjuru daerah memadati area Parkiran Timur Museum Sunan Drajat, Rabu (11/2/2026) malam. Lautan manusia tersebut hadir untuk mengikuti Malam Puncak Haul Akbar ke-516 Raden Qosim Kanjeng Sunan Drajat, salah satu Wali Songo yang dikenal luas dengan dakwah sosial dan nilai kemanusiaannya.

Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti jalannya haul. Lantunan doa, shalawat, serta tausiyah para ulama besar mengalir seiring harapan jamaah agar nilai-nilai luhur Sunan Drajat tetap hidup dan membumi di tengah masyarakat modern.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi yang akrab disapa Pak Yes, hadir langsung di tengah-tengah jamaah. Dalam sambutannya, Pak Yes menegaskan bahwa haul bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi untuk menggali kembali warisan spiritual, intelektual, dan sosial para wali.

“Haul ini harus menjadi pengingat bagi kita semua agar terus meneladani apa yang telah diwariskan para wali, khususnya Sunan Drajat, dalam kehidupan bermasyarakat,” tegas Pak Yes.

Catur Piwulang, Warisan Sosial yang Tak Lekang Zaman

Secara khusus, Pak Yes mengajak masyarakat untuk istiqomah mengamalkan ajaran filosofis Catur Piwulang, warisan Sunan Drajat yang dinilainya tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman, terutama dalam memperkuat jaring pengaman sosial dan harmoni kehidupan bermasyarakat.

Empat pesan luhur dalam Catur Piwulang tersebut meliputi:

Wenehono teken marang wong kang wuto (Berilah tongkat kepada orang yang buta).

Wenehono mangan marang wong kang luwe (Berilah makan kepada orang yang lapar).

Wenehono sandang marang wong kang wudo (Berilah pakaian kepada orang yang tidak berbusana).

Wenehono payung marang wong kang kodanan (Berilah payung kepada orang yang kehujanan).

“Catur Piwulang mengajarkan kebersamaan, empati, dan kepedulian sosial. Bagaimana kita saling melindungi di dunia dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat,” tambah Pak Yes.

Gus Aulia: Budaya Leluhur dan Adab Ketimuran Jangan Ditinggalkan
Secara terpisah Gus Aulia, SE., SH., MM., M.Ph., selaku Ketua LPK-RI DPC Kabupaten Gresik, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang sarat nilai spiritual dan budaya tersebut.

Menurut Gus Aulia, Haul Sunan Drajat bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan benteng moral di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggerus jati diri bangsa.

“Budaya leluhur harus terus dilestarikan. Adab ketimuran, empati sosial, dan nilai kesantunan yang diwariskan para wali tidak boleh ditinggalkan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang,” tegasnya.

Ia menilai ajaran Sunan Drajat melalui Catur Piwulang telah meletakkan fondasi keseimbangan antara kekuatan spiritual, moral, dan kepedulian sosial, sejalan dengan prinsip men sana in corpore sano.

“Jika budaya luhur dan adab ketimuran tetap dijaga, maka harmoni sosial akan terwujud. Inilah warisan para wali yang wajib kita rawat bersama agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarah dan nilai bangsanya,” imbuh Gus Aulia.
Jamaah Membludak, Tokoh Nasional Turut Hadir.

Antusiasme jamaah terlihat luar biasa. Sebagian besar peziarah telah datang sejak pagi, bahkan ada yang menginap sejak hari sebelumnya demi berziarah ke makam Sunan Drajat sebelum puncak haul dimulai.

Kehadiran para tokoh nasional dan ulama kharismatik semakin menambah kekhidmatan acara. Di antaranya :

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, KH. Marzuki Mustamar, KH. Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Fandi Akhmad Yani Bupati Gresik, Gus Syahrul Munir Ketua PCNU Lamongan, Agung Subagyo Kepala Biro Kesra Provinsi Jawa Timur mewakili Gubernur Jatim, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Lamongan.
Spirit Berbagi, Praktik Nyata Ajaran Sunan Drajat.

Tak hanya siraman rohani, nilai kemanusiaan juga hadir secara nyata. Yayasan Gajah Purwo berkolaborasi dengan Yayasan Wong Bodho Pondok Mburi menyediakan ribuan porsi makanan dan minuman gratis bagi jamaah.

Aksi sosial tersebut menjadi wujud konkret ajaran Sunan Drajat tentang berbagi, menolong sesama, dan memuliakan manusia tanpa memandang latar belakang.

Haul Akbar yang berlangsung hingga tengah malam ini menjadi bukti bahwa dakwah Sunan Drajat tetap hidup, relevan, dan mampu menjadi perekat persatuan umat di tengah dinamika zaman.

Kontributor: Cak Snack

Posting Komentar