Makrifat di Zaman Akhir: Menjaga Tauhid, Rasa, dan Akhlak di Tengah Keramaian Dunia
KAJIAN KE-23 - BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID-Makrifat di Zaman Akhir: Menjaga Tauhid, Rasa, dan Akhlak di Tengah Keramaian Dunia
Makrifat bukanlah puncak yang membuat seseorang merasa tinggi, melainkan kedalaman yang membuatnya semakin rendah hati. Dalam Islam Jawa dan Kejawen Nusantara, makrifat dipahami sebagai kesadaran sejati akan kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan. Namun di zaman akhir, ketika dunia semakin bising dan manusia semakin sibuk dengan tampilan luar, jalan makrifat menjadi semakin sunyi dan menantang.
Makrifat di zaman ini bukan lagi soal bertapa di tempat sepi atau menjauh dari dunia sepenuhnya, melainkan kemampuan menjaga hati tetap bening di tengah keramaian. Inilah laku berat yang jarang disadari: hidup di dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.
Makrifat Bukan Kesaktian
Dalam Kejawen dikenal istilah kawruh sejati, sementara Islam mengenalnya sebagai makrifatullah. Keduanya sering disalahartikan sebagai kemampuan supranatural atau kelebihan batin. Padahal, makrifat sejati tidak diukur dari kesaktian, melainkan dari kejernihan tauhid dan keluhuran akhlak.
Orang yang benar-benar makrifat justru:
tidak gemar pamer ilmu,
tidak mencari pengakuan,
dan tidak mengklaim kedekatan dengan Tuhan.
Ia berjalan pelan, berbicara seperlunya, dan bertindak dengan penuh pertimbangan. Inilah ciri laku batin yang matang.
Islam Jawa: Jalan Tengah di Zaman Kebingungan
Di tengah derasnya arus informasi, umat sering terjebak pada dua kutub ekstrem: spiritualitas tanpa syariat, atau syariat tanpa rasa. Islam Jawa hadir sebagai jalan tengah yang meneguhkan tauhid tanpa mematikan budaya batin.
Islam Jawa mengajarkan bahwa:
syariat adalah pagar,
tarekat adalah jalan,
hakikat adalah kesadaran,
makrifat adalah pengenalan sejati.
Semua berjalan berurutan, tidak bisa dilompati, dan tidak boleh dipisahkan.
Manunggaling Kawula Gusti dalam Tantangan Modern
Di zaman akhir, konsep Manunggaling Kawula Gusti sering disalahgunakan untuk membenarkan ego spiritual. Padahal, dalam pemahaman Islam Jawa, konsep ini justru menuntut kehancuran ego.
Manunggaling bukan berarti merasa “menyatu” secara wujud, tetapi:
menyatu dalam kehendak,
tunduk dalam keputusan,
pasrah dalam takdir.
Ketika kehendak pribadi kalah oleh kehendak Ilahi, di situlah manunggal terjadi.
Laku Batin yang Relevan Hari Ini
Islam Jawa tidak mengajarkan laku yang berat dan menakutkan, tetapi laku yang konsisten dan jujur:
menjaga shalat dengan khusyuk,
dzikir tanpa pamrih,
bekerja dengan niat ibadah,
berbicara dengan adab,
dan hidup tanpa merugikan sesama.
Inilah tirakat paling berat di zaman ini: menjadi manusia yang lurus di dunia yang bengkok.
Peran Rasa dalam Menjaga Keimanan
Kejawen mengajarkan ngolah rasa, Islam mengajarkan ihsan. Keduanya menekankan kepekaan batin agar manusia tidak kering secara spiritual. Tanpa rasa, agama menjadi keras. Tanpa agama, rasa menjadi liar.
Islam Jawa menjaga keseimbangan ini agar iman tetap hidup dan manusia tetap waras secara batin.
Penutup: Makrifat sebagai Jalan Sepanjang Hayat
Makrifat bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan seumur hidup. Semakin jauh seseorang berjalan, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba. Di situlah ketenangan sejati lahir.
Islam Jawa dan Kejawen Nusantara tidak mengajak manusia menjadi luar biasa, tetapi mengajak manusia menjadi benar, jujur, dan sadar.
Dan di zaman akhir ini, itu adalah laku yang paling langka.
Bersambung ke:
KAJIAN KE-24
“Laku Sumarah, Tawakal, dan Seni Menyerahkan Diri kepada Allah”
