BREAKING NEWS

Memaknai Harlah Pancasila: Merevitalisasi Persatuan Indonesia di Tengah Fragmentasi Sosial Media


Banyuwangi, BUSERMEDIAINVESTIGASI.ID -Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan momentum reflektif untuk menguji sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan berbangsa, khususnya di ruang digital yang kini menjadi ruang publik baru.

Saat ini kita dihadapkan pada fenomena polarisasi digital atau "kubu-kubuan".  
Perbedaan pilihan politik, preferensi, hingga cara pandang seringkali berujung pada segregasi sosial di media sosial. Fitur algoritma yang cenderung menyajikan konten afirmatif turut membentuk _echo chamber_, di mana individu hanya berinteraksi dengan kelompok yang sepemahaman. Akibatnya, pihak yang berbeda pandangan dengan mudah diposisikan sebagai lawan.

Kondisi ini bertolak belakang dengan esensi Sila ke-3: Persatuan Indonesia.  
Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sekadar semboyan yang tercantum pada lambang negara. Ia merupakan prinsip fundamental yang dirumuskan para pendiri bangsa sebagai jawaban atas realitas keberagaman Indonesia. Persatuan yang dimaksud tidak mensyaratkan keseragaman berpikir, melainkan kemampuan mengelola perbedaan dalam bingkai kebangsaan.

Paradoksnya, semangat "NKRI Harga Mati" kerap digaungkan di media sosial.  
Namun pada praktiknya, semangat tersebut mudah luntur ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar persatuan saat ini bukan ancaman dari luar, melainkan lunturnya kesadaran kolektif bahwa perbedaan adalah keniscayaan, sementara perpecahan adalah pilihan.

Oleh karena itu, peringatan Harlah Pancasila 1 Juni hendaknya menjadi titik tolak untuk merevitalisasi nilai persatuan dalam praktik bermedia sosial. Pancasila tidak cukup hanya dihafal dalam upacara, tetapi harus diwujudkan dalam etika berinteraksi di ruang digital.

Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:
1. Mengedepankan nalar kritis dan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi atau menanggapi perbedaan pendapat.
2. Membuka ruang dialog lintas pandangan sebagai upaya memahami perspektif yang berbeda, bukan untuk mendominasi.
3. Memisahkan substansi dengan personalitas, bahwa perbedaan gagasan tidak seharusnya merusak relasi kemanusiaan sebagai sesama anak bangsa.

Indonesia adalah rumah besar dengan penghuni yang beragam. Menjaga keutuhan rumah tersebut merupakan tanggung jawab kolektif. Apabila setiap perbedaan disikapi dengan konflik, maka yang terancam adalah keutuhan bangsa itu sendiri.

Memperingati Harlah Pancasila tahun ini berarti berkomitmen menghentikan fragmentasi sosial. Sebab persatuan bukanlah doktrin pasif, melainkan kerja aktif seluruh elemen bangsa setiap hari.

Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Mari wujudkan persatuan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia.
 
Posting Komentar